24 Juli 2024

kabarterkini24

Berita Terkini, Kabar Terkini dan Terupdate

Batasi Perburuan Liar Badak, Peneliti Afsel Gunakan Teknologi Nuklir

3 min read
Afrika Selatan — Para peneliti di Afrika Selatan telah menyuntikkan bahan radioaktif ke dalam cula 20 badak, sebagai bagian dari proyek penelitian untuk mengurangi perburuan liar badak. Gagasannya adalah detektor radiasi yang sudah dipasang di perbatasan negara itu akan mendeteksi cula tersebut dan membantu pihak berwenang menangkap para pemburu dan pedagang gelap.

AP – Menyuntikkan bahan radioaktif ke cula badak bukan pekerjaan biasa. Hewan itu harus dibius sebelum culanya dibor dan diisi bahan nuklir secara hati-hati.

Baru-baru ini, para peneliti di Unit Radiasi dan Fisika Kesehatan (Radiation and Health Physics) di University of the Witwatersrand, Afrika Selatan, menyuntikkan isotop tersebut ke cula 20 badak, dengan bantuan para dokter hewan dan pakar nuklir.

Mereka berharap proses ini dapat ditiru untuk menyelamatkan spesies liar lainnya yang rentan terhadap perburuan liar – seperti gajah dan trenggiling.

Profesor James Larkin, yang mengepalai proyek itu, mengatakan, “Apa yang baru Anda saksikan di sini adalah sesuatu yang baru, yang sama sekali baru. Kami sekarang menggunakan radioisotop yang dimasukkan ke cula untuk membuat cula itu berkurang nilainya di mata para pengguna akhir. Kita harus melakukan sesuatu yang baru dan berbeda untuk mengurangi perburuan liar.”

Ia menambahkan, hal tersebut dilakukan untuk mempermudah pencegatan cula-cula itu sewaktu diselundupkan ke perbatasan internasional, karena sudah ada jaringan global pemantau radiasi, yang sebelumnya dirancang untuk mencegah terorisme nuklir.

Menurut data Uni Internasional untuk Konservasi Alam, sebuah badan konservasi internasional, populasi global badak tercatat sekitar 500.000 pada awal abad ke-20. Sekarang ini jumlahnya sekitar 27.000 karena berlanjutnya permintaan akan cula badak di pasar gelap.

Memotong cula badak tidak efektif, karena hal itu akan mengganggu interaksi sosial hewan tersebut, papar Profesor Nithaya Chetty, Dekan Fakultas Sains di universitas itu.

“Setelah beberapa tahun melakukan itu, kita dapat lihat bahwa ini benar-benar berdampak sangat negatif terhadap struktur sosial badak. Ini benar-benar buruk. Badak adalah hewan yang sangat melindungi teritorinya. Dan sekarang ini, kita mulai memengaruhi cara-cara mereka mempertahankan teritori,” jelasnya.

Chetty mengatakan dosis radioaktif yang disuntikkan sangat kecil dan potensi dampak negatifnya terhadap badak telah diuji secara ekstensif.

Arrie van Deventer, pendiri Rhino Orphanage, mengatakan, gagasannya adalah untuk mencegah para pemburu liar karena cula yang berisi bahan radioaktif akan memudahkan pabean untuk melacak dan menyita cula yang diselundupkan.

“Sama sekali aman untuk badak, tetapi ini tidak aman bagi pemburu liar karena mereka tidak dapat memindahkan cula. Inilah gagasannya,” kata Arrie van Deventer.

Rhino Orphanage membantu penelitian itu dengan mengizinkan badak-badak mereka dites untuk mengetahui apakah ide itu dapat diterapkan.

Meskipun gagasan itu mendapat dukungan dari sejumlah kalangan, para peneliti harus melewati banyak kendala etika dari para kritikus terkait metodologinya.

Pelham Jones, ketua Private Rhino Owners Association (Asosiasi Pemilik Badak Swasta), termasuk di antara pengkritik metode yang diusulkan dan ia ragu hal tersebut efektif mencegah para pemburu liar dan pedagang gelap.

Ia mengatakan, “Mereka punya cara lain memindahkan cula badak keluar negeri, keluar benua, tidak melalui penyeberangan perbatasan tradisional. Mereka memintas pos perbatasan karena tahu itu adalah daerah dengan risiko penyitaan atau pencegatan tertinggi.”

Afrika Selatan memiliki populasi badak terbesar dengan populasi sekitar 16.000. Lebih dari 500 badak dibunuh setiap tahun.

Negara itu mengalami penurunan signifikan perburuan liar sekitar tahun 2020, pada puncak pandemi COVID-19, tetapi jumlahnya meningkat lagi setelah restriksi lockdown virus dilonggarkan. [uh/ab]