TNI AL dan Singapura Susun Kerja Sama untuk Hadapi Tantangan Geopolitik Indo-Pasifik hingga LCS
Jakarta, IDM – Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) bersama lembaga pendidikan dari Singapura, yakni S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) menggelar forum diskusi yang membahas ketidakpastian kondisi geopolitik dan potensi ancaman di kawasan Indo-Pasifik.
Forum antara Indonesia dan Singapura ini dibuka oleh sejumlah pembicara, seperti Wakil Komandan Seskoal Laksamana Agoeng Mohammad Kancana, Kepala Pusat Kajian Maritim (Kapusjianmar) Seskoal Laksamana Pertama Salim, hingga Laksamana Muda (Purn) Kresno Buntoro.
Sementara dari lembaga pendidikan RSIS Singapura, seperti Profesor Kumar Ramakrishna dan Profesor Geofrey Till.
Baca Juga: Presiden Prabowo Apresiasi PM Malaysia yang Berhasil Mediasi Thailand-Kamboja
Pada kesempatan tersebut, Salim menjelaskan tujuan forum diskusi sebagai wadah pemikiran atau think tank kerja sama militer untuk keamanan maritim. Ke depannya, Seskoal juga akan menggandeng sejumlah lembaga dari negara Asean lainnya.
“Diskusi dengan RSIS ini membahas Indo-Pasifik dan Laut Cina Selatan karena ini semangkit meningkat rivalitas dan dinamikanya. Tujuan ke depan, dihadapkan tidak hanya dengan RSIS, nanti nambah lagi dengan negara lain,” jelasnya, di sela-sela forum diskusi di Seskoal, Cipulir, Jakarta, Selasa (29/7).

“Kalau kita lihat Cina, sekarang Cina jadi negara maju dan think tanknya makin banyak. Mereka banyak orang pintar untuk memikirkan bagaimana peran negaranya ke masa depan,” sambungnya.
Baca Juga: TNI AU Bentuk Satgas Udara Tangani Karhutla di Riau
Salim memaparkan, dalam forum itu TNI AL dan sejumlah instansi terkait dan delegasi Singapura menggodok sejumlah solusi menghadapi situasi geopolitik yang dinamis di kawasan Indo-Pasifik, terlebih mengenai Laut Cina Selatan (LCS).
“Kita harus berpikir lebih global, Asean harus kuat dan Asean harus punya solusi menghadapi ini (sengketa LCS). Makanya, kita cari solusinya, kerja sama apa yang kira-kira bisa mempersatukan Asean,” ungkap Salim.
Forum diskusi juga membicarakan kerja sama pertahanan siber. Hal ini merupakan tindak lanjut dari pembahasan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima Angkatan Bersenjata Singapura Laksamana Madya Aaron Beng di Jakarta, Selasa (22/7).
Salim menuturkan, hasil dari pembahasan soal kerja sama pertahanan siber ini akan menjadi rujukan atau usulan ke pimpinan TNI dalam membuat kebijakan.
Baca Juga: ITS Rancang Kapal LCU untuk TNI AD, Bisa Angkut Alutsista hingga 2.500 Ton
“Ya itu sedikit ya (dibahas). Bagian dari konflik ini kan siber. Di era peperangan modern kan tidak hanya siber, tapi peperangan pusat jaringan (network centric warfare). Kemudian, siber sekuriti masuk ke peperangan siber, juga peperangan informasi. Semua kumpul menjadi perang hibrida yang kita tidak tahu musuhnya siapa, lembaga bisa, kelompok bisa, orang sipil bisa,” tuturnya.
Selain itu, lanjut Salim, forum diskusi juga membahas peningkatan kerja sama keamanan maritim antara negara di Asean yang saling memilki perbatasan perairan, misalnya Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina.
“Kerja sama patroli terkoordinasi yang ada saat ini, belum tentu cukup untuk keamanan maritim. Perlu dikembangkan. Oleh karena itu, diskusi mengenai kerja sama maritim ini membutuhkan waktu yang lama,” kata Salim. (at)
The post TNI AL dan Singapura Susun Kerja Sama untuk Hadapi Tantangan Geopolitik Indo-Pasifik hingga LCS appeared first on Indonesiadefense.com | Informasi Berita Terkini dan Terbaru Hari Ini Hankam Dan TNI.