45 Orang Resmi Ditetapkan Jadi Tersangka pada Kerusuhan di Pejompongan Kamis Malam
Oposisi Cerdas | Polda Metro Jaya menangkap sebanyak 315 orang dalam kerusuhan di Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat (Jakpus).
Dari angka tersebut, 45 orang kini sudah berstatus tersangka kasus pengrusakan dan penganiayaan.
Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin mengungkap fakta tersebut dalam konferensi pers pada Jumat malam (28/8). Dia menyampaikan bahwa puluhan tersangka itu berasal dari 71 orang yang masuk klaster pengrusakan dan penganiayaan.
”Dari hasil penyidikan tersebut, berdasarkan alat bukti dan saksi yang kami lakukan pemeriksaan dalam proses penyidikan, saat ini kami sudah menetapkan 45 orang sebagai tersangka,” terang Iman di hadapan awak media.
Selain klaster tersebut, polisi mengamankan 153 anak di bawah umur. Seluruhnya sudah diserahkan kepada Direktorat Reserse PPA-PPO Polda Metro Jaya. Terdiri atas 25 anak putus sekolah, 2 anak umur 12 tahun, 1 anak umur 13 tahun, 3 anak umur 14 tahun, 23 anak umur 15 tahun, 47 anak umur 16 tahun, 64 anak umur 17 tahun, dan 10 anak umur 18 tahun.
”Diantaranya ada 3 orang yang berjenis kelamin perempuan,” bebernya.
Di luar itu, ada klaster perusuh sebanyak 91 orang. Kemudian klaster pembawa senjata tajam 3 orang. Seluruhnya sudah dijadikan sebagai tersangka. Tidak hanya itu, polisi juga mengidentifikasi para pihak yang masuk dalam klaster penggerak dan pembiayaan serta klaster perekrut massa aksi.
”Penyidik dalam penyidikan telah menemukan fakta hukum terkait adanya klaster yang bertugas mencari dan merekrut terhadap massa-massa yang akan digunakan di dalam proses atau di dalam kejadian kerusuhan tersebut,” ucap Iman.
Polisi Ungkap Kronologi Seorang Korban Meninggal Dunia
Polda Metro Jaya mengungkap kronologi meninggalnya Bambang Setiawan dalam kerusuhan di wilayah Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat (Jakpus), pada Kamis malam (27/8). Korban sempat dibawa ke Rumah Sakit (RS) Mintohardjo dalam keadaan pingsan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyampaikan bahwa korban dievakuasi oleh petugas dari Biddokkes Polda Metro Jaya. Namun, evakuasi sempat terkendala karena eskalasi di lokasi kerusuhan. Sehingga petugas menunggu sampai situasi benar-benar aman.
”Sehingga pada saat lokasi itu sudah diamankan, Biddokkes Polda Metro Jaya mengevakuasi seseorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan,” terang Budi.
Sayangnya, nyawa korban tidak dapat diselamatkan meski dibawa dari lokasi kerusuhan ke rumah sakit terdekat yang berada di Kawasan Bendungan Hilir (Benhil). Petugas medis di RS Mintohardjo menyatakan bahwa korban yang dievakuasi dalam keadaan pingsan, meninggal dunia.
”Pada saat penanganan di rumah sakit, yang bersangkutan meninggal dunia,” ucap Budi.
Istri Korban Sempat Kehilangan Suami Sebelum Dikabari Telah Meninggal Dunia
Istri almarhum, Sudarsih, 57, menuturkan bahwa pada Kamis sore ia masih menemani suaminya berjualan cermin hingga pukul 16.30 WIB. Melihat pergerakan massa yang kian membludak, Sudarsih meminta suaminya untuk segera menutup tempat usaha mereka lebih awal dari jadwal biasanya.
“Tutupnya itu biasanya jam 18.00 WIB. Tapi karena saya lihat massa sudah banyak dari sana, akhirnya saya bilang ke Bapak untuk tutup saja,” ujar Sudarsih saat dijumpai di kedalamannya.
Sekitar pukul 20.30 hingga 21.00 WIB, massa demonstrasi mulai terdorong mundur ke permukiman. Ketika situasi dinilai mulai mereda, Bambang memutuskan keluar dari rumah. Sudarsih mengaku tidak melarang suaminya pergi karena hal tersebut sudah biasa terjadi jika ada keramaian di sekitar wilayah mereka.
“Dia itu biasanya cuma nonton. Kadang-kadang membantu mengucurkan air buat cuci muka orang-orang. Makanya saya biarkan saja,” ungkap Sudarsih.
Namun, kekhawatiran mulai muncul ketika korban tidak kunjung pulang hingga larut malam. Sekitar pukul 01.30 WIB dini hari, Sudarsih dibantu anaknya berusaha mencari keberadaan Bambang ke tetangga dan Ketua RT setempat, tetapi nihil.
Titik terang keberadaan korban baru terungkap sekitar pukul 04.00 WIB dini hari. Pihak keluarga tidak melihat secara langsung peristiwa penganiayaan maupun evakuasi jasad korban dari lokasi kejadian.
Kepastian dialaminya aksi kekerasan tersebut justru diperoleh setelah sang anak mengenali wajah korban melalui sebuah rekaman video pengeroyokan yang beredar
Sumber: jawapos
Foto: Dua motor dibakar massa di Pejompongan. Kedua motor itu diambil dari Parkiran Pos Polisi (Tazkia Royyan/JawaPos.com)
