Diisukan jadi Tunggangan Politik, Ini Kata Ketum PBNU Gus Kikin
Oposisi Cerdas | Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terpilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin angkat bicara mengenai anggapan yang menyeruak di publik bahwa NU pada masa kepemimpinannya dikhawatirkan menjadi alat atau ‘tunggangan’ politik pihak-pihak tertentu.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang ini menyatakan NU mempunyai pedoman dasar serta tuntunan dalam menjalankan segenap aktivitas berorganisasi. Menurut dia, seluruh prinsip tersebut telah tertuang dalam Qanun Asasi NU.
Sebagai informasi, Qanun Asasi NU adalah kitab atau naskah pedoman dasar dan fondasi ideologis yang disusun oleh Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari saat mendirikan organisasi kemasyarakatan agama tersebut pada medio tahun 1926 silam.
“Ya kita tegaskan bahwa kita itu punya track, kita itu punya kompas. Kita itu punya manhaj. Nah, itu ada di buku itu (Qanun Asasi NU), jadi manhaj itulah yang harus kita jalankan,” ucap Gus Kikin di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026) pagi.
Tak hanya itu, Gus Kikin juga menyatakan NU sebagai organisasi kemasyarakatan religius memegang teguh nilai-nilai teologis Islam dalam upaya melaksanakan segenap aktivitas dan program kerjanya bagi segenap kurang lebih 90 juta anggotanya di seluruh dunia.
“Jadi kita itu ya kembali lagi bahwa itu organisasi keagamaan, kemasyarakatan. Jadi kita itu dasar-dasar agama itu kita pegang. Nah, dari situ itu ya kita pembangunan manusianya kita perhatikan,” ucapnya.
Tak hanya itu, Gus Kikin juga berkomitmen kerja-kerja NU pada lima tahun masa kepemimpinannya terpisah dari seluruh aktivitas yang berbau politik praktis. Ia menyebut Khittah NU yang sesungguhnya adalah dengan tidak terlibat dalam segala macam aktivitas politik.
Gus Kikin juga menyebut dinamika yang terjadi antara NU sebagai organisasi kemasyarakatan religi dengan corak aktivitas perpolitikan di dalam negeri juga tidak dapat terhindarkan. Namun demikian, meskipun saling bersinggungan ia menyatakan jalan keduanya tidaklah selaras.
“Itu dua hal yang berbeda, ya. NU itu bukan untuk berpolitik. NU itu adalah jam’iyyah diniyyah islamiyyah. Jadi, ini satu organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, dan ya bukan untuk berpolitik. Jadi ya kalau ada gesekan, ya mungkin gesekan, tapi kalau jalannya berbeda,” ucap Gus Kikin.
Mengenai relasi NU dengan pemerintah, Gus Kikin menjelaskan warga Nahdliyin sudah sepatutnya wajib patuh kepada aturan dan kebijakan pemerintah selama peraturan tersebut tidak bertentangan dan melanggar syariat.
Ia meyakini perjalanan NU sebagai organisasi kemasyarakatan agama dan kegiatan berpolitik, termasuk aktivitas pada unsur eksekutif dapat berjalan secara beriringan.
“Itu kewajiban. Nah kita ini umat Islam itu wajib untuk [patuh terhadap] pemerintahan, itu wajib. [Nanti berjalan] beriringan aja,” kata dia.
Seperti diketahui, gagasan utama yang dibawa KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 di antaranya adalah penguatan kembali Qanun Asasi NU sebagai pedoman dasar organisasi, penguatan adab dan sanad keilmuan, serta pengembangan potensi ekonomi warga NU.
Adapun Gus Kikin terpilih melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) setelah sebelumnya mendapat restu tertulis dari Rais Aam terpilih KY Miftachul Akhyar. Ia juga tercatat meraih suara tertinggi dari para muktamirin, yakni 472 suara, unggul jauh dibanding empat kandidat lain dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU.
Keputusan terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU periode selanjutnya itu diumumkan langsung oleh anggota AHWA KH Anwar Iskandar, serta kiai sepuh anggota majelis lainnya.
“Setelah melakukan musyawarah dari lima calon yang diajukan, maka anggota AHWA secara mufakat untuk memilih KH Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketum PBNU masa khidmah 2026-2031,” kata Kiai Anwar membacakan keputusan AHWA di ruang sidang pleno Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026) pagi.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat ini menjalankan rapat tersebut dilakukan di Ndalem Kasepuhan kediaman muasis KH Wahab Hasbullah secara tertutup pada pukul 06.20 WIB hingga 07.00 WIB. Dimulai dengan pembacaan Ummul Quran dan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH Anwar Mansyur.
Kiai Anwar juga menjelaskan berita acara penetapan Gus Kikin menjadi Ketua Umum PBNU itu kemudian telah ditandatangani oleh sembilan kiai anggota AHWA. Yakni KH Nurul Huda Djazuli, TGK KH Nuruzzahri Yahya, KH Baharuddin HS, KH Miftachul Akhyar yang merupakan Rais Aam terpilih, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, KH Said Aqil Siradj, dan KH Abun Bunyamin.
