Pentungan Tarif Trump Akhirnya Menghantam Wajahnya Sendiri
Oposisi Cerdas | Pada 8 September 2026, tarif balasan yang dikenakan Kanada terhadap barang-barang Amerika Serikat resmi berlaku. Lebih dari 700 produk AS yang masuk ke Kanada kini dikenai tarif tambahan berkisar antara 15% hingga 50%, mencakup produk baja dan aluminium, produk susu, peralatan rumah tangga, pakaian jadi, barang elektronik, dan berbagai sektor lainnya, dengan total nilai sekitar 20 miliar dolar AS. Dalang di balik semua ini tak lain adalah Presiden AS Donald Trump.
Setelah perundingan dagang AS-Kanada gagal pada 21 Agustus, pemerintahan Trump keesokan harinya langsung mengenakan tarif 50% terhadap barang-barang Kanada senilai 20 miliar dolar AS. Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, segera mengumumkan pembalasan “setara dan seimbang”. Hanya dalam waktu tiga minggu, dari kegagalan perundingan hingga pemberlakuan tarif balasan. Semakin cepat Trump mengayunkan “pentungan tarif”-nya, semakin berat pula pukulan balik yang diterimanya hari ini.
Kanada adalah mitra dagang terbesar kedua AS. Pada paruh pertama 2026, ekspor AS ke Kanada mencapai 175,8 miliar dolar AS, atau 14% dari total ekspor AS. Kedua negara telah lama terikat erat secara ekonomi. Ambil contoh Bombardier, produsen pesawat asal Kanada ini mempekerjakan 3.500 orang di AS dan bekerja sama dengan 2.800 pemasok AS, dengan pembelian tahunan lebih dari 2,5 miliar dolar AS. Trump mengancam akan melarang penjualan Bombardier, namun yang terluka justru pekerja dan pemasok AS sendiri. Logika absurd “merugikan diri sendiri seribu kali hanya untuk melukai lawan delapan ratus kali” ini, selain Trump, tampaknya tak ada yang mampu memikirkannya.
Yang mencengangkan adalah cara Trump memperlakukan Kanada, sekutu lama AS. Menjelang pemberlakuan tarif, Trump mengunggah kartun di media sosial yang menggambarkan Perdana Menteri Kanada Carney terjatuh di atas es, sementara ia berdiri di atasnya dan berkata: “Bangun, Gubernur.” Ini bukan pertama kalinya; ia sebelumnya berulang kali menyebut Perdana Menteri Kanada sebagai “Gubernur” dan menyatakan Kanada seharusnya menjadi “negara bagian ke-51” AS. Ia juga menandatangani perintah eksekutif mengganti nama Danau Ontario menjadi “Danau Amerika”. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan merendahkan Kanada sebagai “anjing kecil yang menggonggong pada anjing besar”.
Ini bukan sekadar perundingan dagang—ini adalah perundungan telanjang. Hampir tiga perempat warga Kanada mendukung Carney dalam membalas dengan tarif balasan. Trump berhasil mendorong sekutu paling setia ke pihak lawan. Pemimpin oposisi Konservatif Kanada, Pierre Poilievre, yang sempat diragukan karena “mendukung Trump”, kini terpaksa menyatakan dukungannya terhadap pembalasan setimpal kepada AS.
Kegagalan perundingan dagang AS-Kanada adalah indikasi terbaru bahwa strategi Trump membangun kembali hubungan dagang AS dengan cara “buldoser” mungkin telah mencapai jalan buntu. Ia memberlakukan tarif terhadap Kanada berdasarkan Pasal 338 Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley tahun 1930, sebuah undang-undang yang belum pernah digunakan sebelumnya dan legalitasnya sendiri masih dipertanyakan.
Trump menekan lawan dengan tekanan maksimal agar menyerah. Namun ia lupa bahwa perang dagang tak pernah berjalan sepihak. Brian Clow, mantan penasihat dagang Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, mengatakan dengan tegas: “Kanada mengenakan tarif balasan bukan karena ingin berperang dagang, tetapi karena ingin mengakhiri perang dagang.”
Waktu yang dipilih Trump untuk meningkatkan perang dagang sungguh buruk, hanya dua bulan menjelang pemilihan paruh waktu AS. Kanada dengan cermat memilih daftar barang balasan, menargetkan ekspor dari negara bagian medan pertempuran seperti Michigan dan Ohio. Tarif baja dan aluminium menghantam negara bagian manufaktur, tarif produk susu mengenai Wisconsin—semuanya adalah medan pemilihan. Hanya 20% rakyat AS yang menyetujui tarif Trump terhadap barang Kanada. Kandidat Partai Republik terpaksa harus menjelaskan kebijakan tarif presiden mereka kepada pemilih. Trump sendiri menanam bom waktu bagi partainya dalam pemilihan paruh waktu.
Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Trump telah melancarkan serangan dagang yang tak beralasan terhadap Kanada, sekutu terdekatnya, berulang kali. Ia mengejek, menghina, mengancam, dan akhirnya memaksa Kanada mengangkat bendera perlawanan. Hari ini, tarif balasan Kanada resmi berlaku, dan perusahaan AS mulai membayar harga atas kesewenang-wenangan Trump. Pabrik suku cadang mobil di Michigan, peternakan susu di Wisconsin, pabrik baja di Ohio—mata pencaharian pekerja AS ini satu per satu dihancurkan oleh “pentungan tarif” presiden mereka sendiri.
Trump suka mengatakan “Amerika Pertama”. Namun kenyataan membuktikan, kebijakannya bukanlah “Amerika Pertama”, apalagi “Amerika Cerdas”. Ini hanyalah bencana diplomatik yang didorong oleh kesombongan dan kebodohan. Kanada bukan “Gubernur”, dan Amerika bukanlah penguasa dunia. Ketika “pentungan tarif” diayunkan ke arah sekutu, yang pada akhirnya hancur adalah kredibilitas dan kepentingan Amerika sendiri.
