Sikap Prabowo Benci Pakar, Henry Subiakto: Ironi dari Anak Seorang Soemitro
Oposisi Cerdas | Sikap Prabowo yang kembali melontarkan pernyataan sinis kepada para pakar mendapatkan kecaman dari berbagai pihak.
Pakar Komunikasi dari Universitas Airlangga, Henry Subiakto mengatakan, sikap yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto berbanding terbalik dengan tindakan ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo.
“Inilah ironi Prabowo, yang notabene dia anak kandung intelektual Prof Soemitro Djoyohadikoesoemo,” kata Henry dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com, Senin (21/9).
Dalam pandangan Henry, karakter Misologist yang membenci argumen kaum terdidik dilakukan dan disampaikan Prabowo itu mirip yang dulu juga dilakukan tokoh tokoh anti demokrasi seperti Mao Zedong (Cina), Polpot (Kamboja), yang garis politiknya anti terhadap orang berpendidikan tinggi.
“Aneh jika Prabowo tidak suka dengan tradisi intelektual yang kritis seperti bapaknya dulu,” ucapnya.
Bahkan, Henry mencurigai bahwa apa yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto saat ini layaknya apa yang dilakukan Donald Trump.
“Atau inilah gaya retorika Prabowo yang mengikuti gaya komunikasi Donald Trump, pemimpin negara demokrasi tapi berkakter anti demokrasi,” duga Henry.
“Trump dikenal menerapkan gaya komunikasi “Discredit Strategy” yang hobinya suka menyerang dan mendiskreditkan kaum kritis di Amerika Serikat sebagai kelompok yang tidak patriotik,” jelasnya.
kesamaan dengan Trump, yang dalam retorikanya menganggap dirinyalah yang sedang berjuang membesarkan kejayaan negara AS.
“Dia yang mewakili kepentingan negara, sedang pengritiknya dicap sebagai “Traitor”, pengkhianat, penyebar berita bohong dan “The enemy of the American people” musuh rakyat AS. Prabowo melakukan hal yang tak banyak beda,” bebernya.
Selama ini, lanjut Henry, Pemerintahan Prabowo terkesan tidak mendengarkan kritik dan masukan. Hal itu diyakininya karena menganggap Pemerintahlah yang paling benar.
“Hanya institusinya yang mewakili kebaikan dan kepentingan negara. Sedang kaum intelektual kritis dicap negatif sebagai “bodoh”, melengkapi perbendaharaan kata sebelumnya seperti “antek asing”, dan “londo ireng’,” tegasnya.
Yang penting nurut dan loyal sebagaimana dalam tradisi prajurit atau tentara. Mengabaikan nilai nilai demokratis yg menganggap kritik itu mencerdaskan, mendewasakan, dan membuat pemerintah lebih hati hati dan bijak,” tutupnya.
Sumber: holopis
Foto: Presiden Prabowo Subianto dalam program Presiden Menjawab. [Gambar: tangkapan layar]
