5 Juni 2026

kabarterkini24

Berita Terkini, Kabar Terkini dan Terupdate

Riset Palsu, Berapa Gaji Peneliti Independen seperti Prihantini dan Rifaldy Fajar?

Menyoroti kasus Rifaldy Fajar, tak sedikit orang penasaran berapa gaji peneliti independen di Indonesia?
Belakangan ini nama Rifaldy Fajar menjadi sorotan publik usai riset palsu demi mendapat travel grant viral di media sosial.
Rifaldy Fajar terbongkar melakukan penelitian palsu atau riset palsu dalam forum internasional.
Kontroversi tersebut mulai terkuak dalam ajang  nternational Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, pada 17–21 Mei 2026.
Rifaldy bersama peneliti lain lakukan presentasi dengan data yang tidak valid dalam forum internasional tersebut.
Mereka diketahui menggunakan identitas akademik tanpa izin dan menyertakan afiliasi kampus fiktif.
Sleain itu, ditemukan kejanggalan pada karya ilmiah Rifaldy cs karena isi materi yang dipresentasikan menggunakan kecerdasan buatan (AI).
“Periset asal Indonesia yang diduga melakukan pemalsuan itu dicurigai menggunakan lembaga Al-BioMedicine Research Group, IMDS-BioMed Research Foundation di Jakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai identitas mereka.” jelas Ida Bagus Mandhara Brasika lewat akun Thread @mandharabrasika.
Ida Bagus Mandhara Brasika sendiri adalah dosen sekaligus peneliti yang menghadiri konferensi international tersebut.
“Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di generate AI, gambar dan tulisannya juga,” lanjutnya.
Di tengah polemik tersebut, tak sedikit orang penasaran sumber penghasilan seorang peneliti independen.
Berbeda dengan peneliti yang bekerja di perguruan tinggi, lembaga penelitian, atau instansi pemerintah, peneliti independen umumnya tidak memiliki gaji tetap dari satu institusi.
Lantas berapa penghasilan yang didapatkan dari peneliti independen seperti Rifaldy Fajar? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Berapa Gaji Peneliti Independen di Indonesia?
Umumnya peneliti independen tidak memiliki sumber penghasilan yang tetap, karena mereka bergantung pada berbagai proyek, research grant (hibah penelitian), publikasi dan komersialisasi, hingga seminar yang diikuti.
Di Indonesia sendiri, rata-rata gaji peneliti berkisar Rp6.600.000 hingga Rp7.400.000 per bulan, belum termasuk dengan tunjangan.
Nominal tersebut juga bergantung pada lembaga, jenjang jabatan fungsional, serta latar pendidikan peneliti.
Berdasarkan ketentuan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), honor peneliti dapat mencapai 25 persen dari total dana penelitian yang diterima dalam suatu proyek riset.
Kebijakan tersebut menjadi komitmen pemerintah dalam memperkuat ekosistem riset perguruan tinggi dan meningkatkan dukungan dan apresiasi bagi dosen yang berikprah dalm riset dan pengembangan.
Melansir dari British Council, peneliti independen dapat memperoleh dana perjalanan (travel grant) untuk menghadiri konferensi, workshop, atau kolaborasi riset internasional. 
Travel grant sendri bukan gaji, tetapi dapat menanggung tiket, akomodasi, dan biaya kegiatan ilmiah yang nilainya cukup besar.
Selain itu, travel grant juga diberikan untuk mereka bisa menghadiri konferensi yang tak dapat dijangkau oleh semua orang kecuali para pengajar senior yang lebih baik.
Lalu bagaimana cara mendapatkan travel grant melalui penelitian? Berikut informasinya.
3 Kelompok Berhak Menerima Travel Grant
Mengutip dari International Studies Association (ISA), program ini dirancang untuk memberikan bantuan kepada kelompok akademis yang menghadapi keterbatasan akses finansial.
Adapun 3 kelompok utama yang menjadi sasaran dalam program travel grant di antaranya:
1. Peneliti muda atau junior scholars yang baru memulai karier akademik dan belum memiliki dukungan finansial yang memadai untuk menghadiri forum internasional
2. Mahasiswa pascasarjana atau mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi dan aktif mempresentasikan hasil riset mereka di forum ilmiah
3. Akademis dari negara-negara berpenghasilan rendah yang secara struktural memiliki keterbatasan dalam meembiayai perjalanan ke konferensi internasional.
Syarat Menerima Travel Grant
Melansir dari The Geological Society of America (GSA), setiap program travel grant memiliki ketentuan yang berbeda sesuai kebijakan penyelenggara konferensi maupun lembaga pemberi dana. 
Meski demikian, terdapat sejumlah persyaratan umum yang biasanya harus dipenuhi oleh para pelamar di antaranya:
  • Berstatus sebagai mahasiswa aktif jenjang sarjana atau pascasarjana di institusi pendidikan yang diakui.
  • Menjadi anggota organisasi atau asosiasi ilmiah yang menyelenggarakan program travel grant.
  • Memiliki rencana untuk mempresentasikan hasil penelitian secara langsung dalam konferensi yang dituju.
  • Tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi berperan sebagai pemakalah atau presenter dalam kegiatan ilmiah tersebut.
  • Memenuhi persyaratan khusus yang ditetapkan oleh masing-masing penyelenggara program travel grant.