Ini Alasan Iran Tolak Mentah-Mentah Proposal Gencatan Senjata AS
Iran dilaporkan menolak mentah-mentah proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat (AS) dalam konflik terbaru. Penolakan tersebut disebut karena proposal itu tidak menyelesaikan persoalan utama bagi Teheran, yakni kendali atas lalu lintas di Selat Hormuz.
Informasi tersebut diungkap surat kabar The New York Times (NYT) yang mengutip pejabat Iran dan Irak. Proposal gencatan senjata itu disampaikan kepada Iran melalui Perdana Menteri Irak Ali Al Zaidi saat melakukan kunjungan resmi ke Teheran.
Menurut laporan NYT, usulan tersebut merupakan proposal gencatan senjata pertama yang diajukan Washington sejak perang terbaru pecah. Namun, Iran menilai isi proposal belum menyentuh isu strategis yang menjadi kepentingan utama mereka, sehingga langsung ditolak.
Al Zaidi diketahui lebih dahulu bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington DC sebelum bertolak ke Teheran. Meski demikian, isi lengkap proposal tersebut tidak diungkapkan kepada publik.
Kunjungan Al Zaidi ke Iran merupakan kunjungan resmi pertamanya sejak menjabat sebagai Perdana Menteri Irak pada Mei lalu. Didampingi sejumlah menteri, dia bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk membahas hubungan bilateral, perkembangan situasi kawasan, serta upaya memperkuat keamanan dan stabilitas regional.
Selain itu, kedua pemimpin membahas implementasi berbagai perjanjian yang telah ditandatangani sebelumnya. Mereka juga menyerukan peningkatan kerja sama di sektor perdagangan, energi, transportasi, serta isu-isu strategis kawasan.
Media Iran melaporkan Al Zaidi juga menggelar pertemuan dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang juga menjadi kepala juru runding negosiasi dengan AS, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
NYT juga melaporkan bahwa para pejabat Iran justru mempersiapkan kemungkinan konflik yang lebih luas apabila Presiden Trump melanjutkan ancamannya untuk menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk fasilitas nuklir dan pembangkit listrik.
Menurut para pejabat Iran, serangan terhadap fasilitas strategis itu akan memicu pembalasan yang lebih keras dan meluas di Timur Tengah, termasuk kemungkinan menargetkan Israel.
Iran juga disebut telah meminta kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab Al Mandab apabila konflik terus meningkat. Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut berpotensi mengganggu ekspor minyak dari negara-negara Teluk.
Serangan AS ke Iran dalam konflik terbaru yang berlangsung sejak akhir Juni dilaporkan telah menewaskan 58 orang dan melukai lebih dari 600 lainnya hingga Jumat (24/7/2026).
Sumber: inews
Foto: Iran menolak mentah-mentah proposal gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat (AS) dalam konflik terbaru (Foto: AI)
