Mahfud Bahas Sejarah Londo Ireng, Singgung Buyut Prabowo
Pakar Hukum Tata Negara, Mahfud MD, menilai Presiden Prabowo Subianto tidak suka dikritik. Hal itu diungkapkannya saat menanggapi pernyataan soal londo ireng yang dialamatkan kepada jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
“Pertama, tanggapan yang tiba-tiba muncul di benak saya, presiden ini tidak suka pada kritik,” kata Mahfud, dikutip dari YouTube Mahfud MD Official, Rabu (29/7/2026).
Apalagi, kata Mahfud, Prabowo kerap menyatakan siap menerima kritik. Namun, setelah dikritik justru menghantam balik para pengkritiknya.
“Selalu mengatakan ini negara demokrasi, silakan kritik pemerintah. Tapi setelah itu menghantam balik para pengkritiknya tanpa penjelasan substantif,” terangnya.
Menurutnya, cap londo ireng ditujukan kepada kelompok yang selama ini bersikap kritis.
“Jadi kalau orang disebut londo ireng itu, kalau yang mengkritik seperti LSM, pengamat, jurnalis. Yang paling banyak jurnalis,” ungkapnya.
Bagi Mahfud, ungkapan tersebut menyakitkan.
“Itu agak menyakitkan, karena londo ireng itu sejarah pengkhianatan terhadap perjuangan,” terangnya.
Selama ini, Mahfud menilai pidato spontan Prabowo kerap menyakitkan bagi kelompok kritis. Padahal, menurutnya, mengkritik tidak sama dengan berkhianat terhadap bangsa.
“Ini bukan londo ireng, ini orang yang cinta pada bangsanya untuk meluruskan dan memberi solusi,” pungkasnya.
Buyut Prabowo Londo Ireng Sesungguhnya?
Mahfud menjelaskan, istilah londo ireng dimaksudkan untuk menunjuk orang yang bekerja bagi pemerintahan penjajahan Belanda. Dalam pengertian tersebut, mereka dianggap sama saja berkhianat terhadap bangsa.
“Kalau dilihat dari sejarah yang sangat terkenal, londo ireng itu kan mulai ketika Perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun,” ujarnya.
Saat itu, Belanda mendatangkan tentara dari Manado, Minahasa, bernama Benjamin Sigar.
Benjamin Sigar ini disebut-sebut sebagai buyut Prabowo dari garis keturunan ibunya.
“Itu yang pertama disebut londo ireng, karena didatangkan dari Sulawesi Utara untuk melumpuhkan Diponegoro yang selama lima tahun sulit dikalahkan Belanda. Kerugian Belanda sangat besar sehingga didatangkan Benjamin Sigar,” tutur Mahfud.
“Nah, di situlah kemudian orang Jawa itu menyebut londo ireng, ini Belanda juga nih,” sambungnya.
Di titik itu, ia menegaskan bahwa pengkritik seperti jurnalis bukanlah londo ireng.
“Jadi londo ireng itu pengkhianat, sedangkan para jurnalis tadi adalah pengkritik yang sehat,” pungkasnya.
