Eks Ketua AJI Ungkap Isu Perjanjian Rahasia Prabowo-Jokowi Soal Jabatan 2 Tahun
Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Lukas Luwarso, mendadak menyinggung keberadaan dugaan perjanjian rahasia antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Isu miring yang berembus di tengah dinamika politik nasional tersebut mengklaim adanya kesepakatan tertutup bahwa Prabowo hanya akan memegang tampuk kepemimpinan sebagai kepala negara selama dua tahun sebelum akhirnya digantikan.
Keterangan dan analisis kritis tersebut disampaikan oleh Lukas Luwarso saat menjadi narasumber dalam tayangan di kanal YouTube Forum Keadilan TV yang diunggah serta dikutip pada Rabu (5/8/2026). Lukas mencermati perkembangan rumor politik yang tengah hangat diperbincangkan publik pasca-pelantikan kepemimpinan nasional yang baru.
Meskipun kebenaran isu perjanjian rahasia tersebut belum pernah dikonfirmasi secara resmi oleh pihak-pihak terkait, Lukas menilai ada pergerakan politik yang menarik untuk dicermati. Salah satunya terlihat jelas dari manuver internal Partai Gerindra dalam merespons desas-desus pengambilalihan kekuasaan secara lebih cepat tersebut.
Lukas secara khusus menyoroti momentum Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 Partai Gerindra yang digelar pada Februari 2025 lalu. Pada helatan akbar tersebut, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani, secara tegas dan terbuka mengumumkan bahwa seluruh kader partai telah sepakat bulat untuk kembali mengusung Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mendatang.
“Makanya ada satu settingan agar di ulang tahun ke-17 itu… waktu itu diumumkan ketua panitianya atau Sekjennya bahwa Prabowo akan maju lagi tahun 2029,” ujar Lukas Luwarso ketika menguraikan analisisnya di kanal YouTube Forum Keadilan TV.
Dalam pandangan pengamat media dan jurnalis senior ini, deklarasi dukungan untuk maju kembali pada Pilpres 2029 yang disampaikan oleh jajaran elite Partai Gerindra tersebut terkesan sangat tidak biasa dan memicu tanda tanya besar. Pasalnya, pengumuman penting itu diletupkan hanya berselang enam bulan setelah Prabowo resmi dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia.
Lukas menilai langkah cepat dan responsif dari jajaran pengurus Partai Gerindra tersebut merupakan bentuk antisipasi atas isu liar yang berkembang di balik layar pemerintahan. Deklarasi dini tersebut sengaja dirancang untuk mematahkan narasi yang menyebutkan bahwa masa kepemimpinan Prabowo bakal berlangsung sangat singkat.
“Padahal yang beredar adalah ada kesepakatan Prabowo hanya akan bertahan maksimal 2 tahun… Rumor yang beredar. Kita enggak pernah tahu itu benar atau tidak,” imbuh Lukas menjelaskan kontradiksi antara rumor politik dan respons yang ditampilkan oleh partai berlambang kepala garuda tersebut.
Isu mengenai pembatasan masa jabatan presiden selama dua tahun sejatinya bukanlah barang baru di ruang publik. Sebelum pengamatan Lukas Luwarso ini mengemuka, pengamat militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie juga pernah melempar klaim serupa ke hadapan publik saat perhelatan Pilpres 2024 lalu.
Kala itu, Connie mengaku mendapatkan informasi langsung dari Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani. Menurut klaim Connie, dalam percakapan mereka disebutkan bahwa jika pasangan Prabowo-Gibran memenangkan kontestasi politik, Prabowo hanya akan menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia selama kurun waktu dua tahun saja.
Skenario yang diklaim Connie menyebutkan bahwa sisa tiga tahun masa jabatan kepresidenan selanjutnya akan diteruskan dan dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang tidak lain merupakan putra sulung dari Jokowi.
“Saya bilang apa dulu saya mau tanya emang Pak Prabowo ini bakal jadi presiden berapa lama? Ini menyampaikan Pak Rosan loh, duta besar kita, mantan, di Amerika. Jadi rencananya dua tahun. Tiga tahun berikutnya diikuti oleh Gibran,” beber Connie saat menceritakan ulang kronologi percakapan tersebut.
Namun demikian, klaim kontroversial yang dilontarkan oleh Connie Rahakundini Bakrie tersebut langsung mendapat bantahan sangat keras dari Rosan Roeslani. Dalam kesempatan konferensi pers resmi yang digelar di Media Center TKN Prabowo-Gibran, Jakarta Selatan, Rosan secara tegas menepis narasi mengenai skenario jabatan dua tahun tersebut.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu mengklarifikasi bahwa narasi serta angka “dua tahun” sama sekali bukan berasal dari dirinya maupun tim internal pemenangan. Sebaliknya, Rosan membeberkan bahwa kalimat dan spekulasi tersebut justru pertama kali keluar dari ucapan Connie sendiri saat mereka melakukan perbincangan.
“Pernyataan yang dua tahun itu bukan datang dari saya. Beliau (Connie) mengatakan, ‘Ini gimana kalau sudah dua tahun, atau kalau tiba-tiba Pak Prabowo, saya ini orang intelijen, bisa saja Pak Prabowo diracun, bisa lebih cepat, itu gimana?’, dia bilang begitu,” ungkap Rosan membongkar isi percakapan versi dirinya di hadapan para awak media.
Rosan mengaku sangat terkejut dengan spekulasi liar yang dilontarkan Connie kala itu. Ia lantas secara langsung menolak dan meminta agar asumsi-asumsi ekstrem semacam itu tidak perlu diteruskan apalagi dijadikan bahan diskusi publik.
“Saya bilang, ‘Bu, udahlah, itu tidak pantas. Ya sudahlah, kita, sih, nggak ada pikiran seperti itu lah, janganlah’,” tegas Rosan menirukan respons penolakannya saat berkomunikasi dengan Connie.
Meskipun bantahan resmi telah disampaikan secara berulang kali oleh TKN maupun lingkar dalam pemerintahan, desas-desus mengenai dinamika pembagian kekuasaan serta intrik politik di panggung pemerintahan nasional tetap menjadi komoditas perbincangan hangat di kalangan akademisi, pengamat, dan masyarakat luas. Publik terus mencermati bagaimana hubungan politik antara Prabowo Subianto, Jokowi, dan Gibran Rakabuming Raka berjalan di tengah pusaran isu dan spekulasi yang belum mereda. (*)
Sumber: bacasore
Foto: Eks Ketua AJI Lukas Luwarso/Net
