Soerjo Wirjohadipoetro, Jenderal Keuangan yang Dekat dengan Soeharto dan Pembina Yayasan SIHI Pondok Pinang
Nama Letnan Jenderal (Purn.) Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Soerjo Wirjohadipoetro kembali teringat seiring sejumlah peristiwa terkait Yayasan Sekolah Islam Harapan Ibu di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Sosok jenderal keuangan generasi 1945 ini dikenal sebagai orang kepercayaan Presiden Soeharto di bidang keuangan, sekaligus pernah menjabat sebagai Pembina yayasan pendidikan Islam tersebut.
Soerjo Wirjohadipoetro lahir pada 24 Maret 1917 di Semampir, Kota Kediri, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Trenggalek, Sekolah Lanjutan Pertama Kediri, lalu Middelbare Handels School (sekolah menengah ekonomi) di Batavia, dan kursus notaris di Semarang. Karier militernya dimulai dari masa pendudukan Jepang sebagai perwira keuangan (Keiri Shodanco) di PETA Blitar/Kediri, kemudian bergabung dengan TNI Angkatan Darat di Corps Keuangan (CKU).
Sepanjang kariernya, Soerjo selalu berkutat di bidang keuangan militer. Ia pernah menjabat Kepala Keuangan Kementerian Pertahanan, Asisten Keuangan Kepala Staf Angkatan Darat, Kepala Seksi Anggaran Komando Operasi Tertinggi (KOTI), hingga Ketua Gabungan 6 (G-6) bidang Keuangan di KOTI Gaya Baru. Ia juga memprakarsai berdirinya Sekolah Kader Administrasi Militer. Pangkatnya naik hingga Letnan Jenderal sebelum pensiun pada 1974.
Kedekatan dengan Presiden Soeharto
Hubungan Soerjo dengan Soeharto terjalin sejak awal 1960-an ketika keduanya bertugas di KOTI. Pasca Peristiwa G30S 1965, Soeharto menunjuknya sebagai Ketua Tim Pemeriksa Keuangan Negara (Pekuneg) pada 1967. Tim ini bertugas mengawasi aset perusahaan yang disita negara dan memberantas korupsi.
Lebih lanjut, Soerjo menjadi Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto bidang keuangan (1966–1974), bersama Soedjono Hoemardani (ekonomi) dan Ali Moertopo (politik). Ia dikenal sebagai “bendahara” Soeharto dan terlibat dalam jaringan bisnis Orde Baru, termasuk dengan pengusaha seperti Sudono Salim (Liem Sioe Liong). Ia sempat menjadi Direktur Utama PT Hotel Indonesia Internasional, Bank Windu Kencana, Mandala Airlines, dan Duta Nusantara. Setelah Aspri dibubarkan pasca peristiwa Malari 1974, Soerjo masih dipercaya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) periode 1983–1988.
Meskipun sempat tersandung dugaan skandal keuangan pada 1970 yang dilaporkan media dan Komisi Empat, Soeharto tetap mempertahankan kepercayaan kepadanya.
Hubungan dengan Yayasan Sekolah Islam Harapan Ibu
Selain karier militer dan bisnis, Soerjo terlibat dalam dunia pendidikan Islam. Ia tercatat sebagai salah satu Pembina Yayasan Sekolah Islam Harapan Ibu (SIHI) di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Yayasan ini mengelola jenjang pendidikan dari TK hingga SMA Islam Harapan Ibu.
Dalam sengketa kepengurusan yayasan tahun 2011, nama Soerjo Wirjohadipoetro disebut sebagai Pembina bersama Otto Malik, Juliani Malik, dan Yan Shofian Syafei, sementara dr. Sulastomo sebagai Pengawas. Kepengurusan tersebut diakui berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Letnan Jenderal (Purn.) KRMH Soerjo Wirjohadipoetro menerima kunjungan Sekjen Kementerian Sosial RI pada 10 November 2020.
Nama “Jenderal Suryo” (panggilan umum untuk Soerjo) kembali muncul dalam pemberitaan terkini terkait penemuan ratusan senjata di kawasan sekolah pada Agustus 2026. Pihak terkait menyebut rencana ekstrakurikuler menembak pada 2021 telah diketahui Pembina yayasan Jenderal Suryo, yang kemudian meninggal dunia pada 2022.
Soerjo Wirjohadipoetro meninggal dunia pada 31 Agustus 2022 di usia 105 tahun di kediamannya di Jalan Sriwijaya I No. 12, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ia meninggalkan enam anak, termasuk Bambang Soerjantono “Tonny” Soerjo. Pada 2017, ia dianugerahi rekor MURI sebagai purnawirawan TNI/tokoh Angkatan 45 yang mencapai usia 100 tahun atau lebih.
Sosoknya menjadi bagian dari sejarah Orde Baru sebagai jenderal keuangan yang setia mendampingi Soeharto, sekaligus terlibat dalam pembinaan yayasan pendidikan Islam yang hingga kini masih beroperasi di Jakarta Selatan.

