Heboh, Indonesia Ekspor Monyet untuk Riset, Begini Penjelasan Pakar IPB
Oposisi Cerdas | Ada-ada saja. Indonesia kembali mengekspor monyet ekor panjang (long-tailed macaque) untuk kebutuhan penelitian. Pada Juni 2026, sebanyak 1.928 ekor dilaporkan diekspor, setelah aktivitas serupa terakhir dilakukan pada 2022.
Monyet ekor panjang memiliki nilai ekonomi tinggi untuk penelitian biomedis. Harganya dapat mencapai sekitar US$3.000–US$4.000 per ekor, tergantung usia dan kriterianya. Pasarnya antara lain Amerika Serikat dan China.
Namun, perdagangan ini bukan sekadar soal ekonomi. Penggunaan primata untuk penelitian juga menyentuh persoalan konservasi, kesejahteraan hewan, etika, hingga perkembangan metode riset tanpa hewan.
Pakar IPB Soroti Konservasi
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menilai persoalan ekspor monyet perlu dilihat dari berbagai sisi.
Secara hukum, perdagangan internasional satwa dapat dilakukan melalui mekanisme dan kuota yang diatur CITES. Pemerintah juga menyatakan monyet yang diekspor berasal dari fasilitas penangkaran, bukan tangkapan langsung dari alam.
Namun, status konservasi menjadi perhatian. Macaca fascicularis saat ini masuk kategori Endangered menurut IUCN.
Prof Ronny juga mengingatkan pentingnya memastikan rantai pasok benar-benar berasal dari penangkaran.
“Pengadaan satwa dari masyarakat harus dipastikan benar-benar dapat membedakan satwa hasil penangkaran dengan satwa yang sebelumnya ditangkap dari alam,” beber Prof Ronny terkait potensi celah perdagangan ilegal.
Mengapa Monyet Dipakai untuk Riset?
Monyet ekor panjang banyak digunakan dalam penelitian biomedis karena memiliki kedekatan biologis dengan manusia.
Karakteristik tersebut membuatnya relevan untuk sejumlah penelitian kesehatan dan pengembangan obat.
Masalahnya, penggunaan primata juga menimbulkan pertanyaan etis, terutama ketika teknologi alternatif terus berkembang.
Beberapa metode yang berkembang antara lain:
- Uji in vitro, menggunakan sel atau jaringan manusia untuk menguji toksisitas, iritasi, maupun respons terhadap obat.
- Model kulit manusia 3D, yang dapat digunakan dalam penelitian kosmetik dan pengujian bahan tertentu.
- Organ-on-chip, yaitu teknologi yang meniru fungsi organ manusia dalam sistem mikro yang dapat digunakan untuk penelitian penyakit dan obat.
- Pemodelan komputer atau in silico, yang memanfaatkan komputer untuk memprediksi interaksi molekul dan respons biologis.
- Artificial intelligence (AI), yang dapat membantu menganalisis ribuan senyawa dan memprediksi potensi efek suatu bahan.
- High-throughput screening (HTS), yang memungkinkan ribuan senyawa diuji secara cepat menggunakan otomatisasi dan kultur sel.
- Stem cell dan induced pluripotent stem cell (iPSC), yang dapat dikembangkan menjadi berbagai jenis jaringan untuk mempelajari respons biologis manusia.
Prof Ronny menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penelitian ilmiah tidak harus selalu bergantung pada hewan percobaan
Metode-metode tersebut memungkinkan penelitian dilakukan menggunakan sel, jaringan manusia, maupun simulasi komputer sehingga ketergantungan pada hewan percobaan dapat dikurangi.
Bukan Hanya Soal Ekspor
Perdebatan ekspor monyet pada akhirnya mempertemukan kepentingan penelitian, ekonomi, konservasi, kesejahteraan hewan, dan perkembangan teknologi.
Indonesia perlu memastikan setiap perdagangan primata memiliki pengawasan ketat serta tidak membuka celah eksploitasi satwa liar.
Di saat yang sama, pengembangan metode penelitian alternatif perlu diperkuat agar kemajuan sains tidak selalu bergantung pada penggunaan hewan. ***
Sumber: pojoksatu
Foto: Monyet ekor panjang menjadi salah satu primata yang digunakan dalam penelitian biomedis. (Foto: Mufid Majnun/Unsplash.)
