25 Agustus 2026

kabarterkini24

Berita Terkini, Kabar Terkini dan Terupdate

Tragedi di India: Ayah, Ibu dan Anak Jatuh dari Tebing Perkara Ngambek Cicilan iPhone

Oposisi Cerdas | Sebuah tragedi menimpa keluarga di
Maharashtra, India. Kunal Chandgude, 19 tahun, bersama kedua orang tuanya
tewas setelah jatuh dari tebing dalam situasi yang bermula dari persoalan
pembayaran cicilan iPhone.
Dikutip dari NDTV, Senin (24/8/2026), Kunal diketahui membeli iPhone dengan
skema cicilan. Namun, ia kemudian kesulitan membayar cicilan tersebut.
Persoalan itu memicu pertengkaran dengan orang tuanya ketika Kunal meminta
uang untuk membayar cicilan terbarunya.
Setelah pertengkaran tersebut, Kunal meninggalkan rumah dan pergi menuju
tepian sebuah bukit. Situasi kemudian berkembang menjadi ketegangan selama
sekitar tiga jam sebelum berakhir tragis.
Ayah Kunal, Murlidhar, 48 tahun, yang selama bertahun-tahun bekerja sebagai
sopir untuk menghidupi keluarganya, berusaha mendekati dan menangkap
putranya. Namun, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh dari tebing.
Melihat kejadian tersebut, ibu Kunal, Sangeeta, ikut melompat dalam kondisi
terkejut dan putus asa. Ketiganya akhirnya meninggal dunia.

Satu kasus memang tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa pembelian iPhone
dengan cicilan merupakan jalan pasti menuju jebakan utang. Namun, tragedi di
Maharashtra kembali menyoroti persoalan yang lebih luas mengenai tekanan
finansial akibat pembelian perangkat mahal, khususnya di kalangan anak muda.
Laporan media dari waktu ke waktu juga mencatat kasus kematian akibat
tekanan dan persoalan finansial yang berkaitan dengan pembelian perangkat
elektronik mahal. Sebagian besar kasus tersebut melibatkan kaum muda atau
kelompok yang dikenal sebagai Gen-Z.
Di India, data survei konsumsi makroekonomi dan distribusi kekayaan
menunjukkan kurang dari 50 juta rumah tangga memiliki pendapatan keluarga
bulanan sebesar 75.000 rupee.
Dengan asumsi harga rata-rata iPhone yang dianggap sebagai ponsel aspiratif
mencapai 75.000 rupee, pembelian perangkat tersebut berpotensi menjadi beban
besar bagi banyak rumah tangga.
Pertanyaan mengenai apakah iPhone mendorong ratusan ribu keluarga India
masuk ke dalam utang pun dinilai perlu mendapat perhatian serius.
Lembaga riset pasar independen Counterpoint Research memperkirakan
sedikitnya 42 persen iPhone yang terjual di India tahun ini akan dibeli
melalui skema cicilan.
Tragedi keluarga Chandgude memperlihatkan bagaimana keinginan memiliki
smartphone premium, yang didorong oleh pembiayaan ritel agresif, dapat
berubah menjadi tekanan psikologis dan ekonomi bagi keluarga yang tidak siap
menghadapi utang konsumsi perangkat teknologi.
Riset pasar independen menunjukkan pembelian smartphone kelas atas
menggunakan pinjaman kini semakin umum. Tren tersebut tidak hanya terjadi di
kota-kota besar, tetapi juga telah merambah kota-kota kecil dan desa.
Konsumen semakin meninggalkan pembayaran tunai atau pembayaran sekaligus
seiring harga perangkat yang terus meningkat. Industri smartphone kemudian
mendorong skema cicilan sebagai cara mempertahankan pertumbuhan di pasar
yang sensitif terhadap harga.
Cicilan Dibuat Terlihat Ringan
Data menunjukkan pasar kelas menengah ke bawah kini menjadi segmen pembelian
smartphone yang paling bergantung pada pembiayaan, bahkan melampaui
kota-kota besar, menurut studi Counterpoint Research bulan ini.
Untuk menyamarkan mahalnya perangkat premium, pasar ritel memperpanjang
periode pembayaran. Dengan begitu, jumlah yang harus dibayar setiap bulan
terlihat lebih mudah dijangkau, meski masa utangnya menjadi lebih panjang.
Saat ini, rata-rata tenor pembiayaan smartphone di toko ritel fisik mencapai
10 bulan. Khusus iPhone, kuatnya daya tarik terhadap produk ponsel pintar
ini membuat rata-rata tenor pembiayaannya mencapai 17,2 bulan, menurut
lembaga riset pasar tersebut.
Kondisi itu menunjukkan adanya jarak antara pendapatan masyarakat dan barang
yang mereka konsumsi. Jika harga rata-rata iPhone diperkirakan secara
konservatif mencapai 75.000 rupee, nilainya bahkan lebih besar dibandingkan
kemampuan pendapatan pembeli rata-rata jika dibandingkan dengan total
pendapatan rumah tangga dalam sebulan.
Namun, jutaan perangkat premium tersebut tetap terjual setiap kuartal.
Pembeli muda dapat mendatangi toko ritel, menyerahkan dokumen identitas
dasar, kemudian membawa pulang perangkat elektronik yang harganya bahkan
melebihi pendapatan bulanan seluruh keluarganya.
Bagi orang tua seperti Murlidhar, yang bekerja berjam-jam sebagai sopir,
membiayai ponsel dengan harga sebesar itu dapat berarti harus mengorbankan
kestabilan rumah tangga, menunda kebutuhan pengobatan penting, atau
mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan makanan.
Tekanan Sosial Gen-Z
Bagi konsumen Gen-Z, iPhone juga memiliki posisi sebagai simbol sosial dan
penanda kelas yang sangat terlihat.
Analis perilaku konsumen independen dan psikolog anak muda menyoroti bahwa
tekanan untuk menyesuaikan diri dapat terasa lebih kuat di kota-kota kecil.
Kepemilikan perangkat dapat memengaruhi penerimaan sosial di antara kelompok
sebaya, sementara algoritma media sosial turut memengaruhi pandangan yang
mengaitkan harga diri dengan kepemilikan barang.
Pembelian menggunakan skema cicilan kini juga semakin mudah seiring
berkembangnya perusahaan pembiayaan nonbank serta pembiayaan di titik
penjualan.
Proses pinjaman yang sebelumnya membutuhkan waktu dan prosedur lebih panjang
kini berubah. Pembeli tidak harus mendatangi bank, memberikan jaminan fisik,
atau menjalani penilaian ketat mengenai kondisi keuangan keluarga secara
menyeluruh.
Algoritma bahkan dapat menyetujui pinjaman tanpa kertas dalam waktu kurang
dari tiga menit berdasarkan kartu PAN dan kode OTP.
Di sisi lain, pengecer mendapatkan margin lebih tinggi dari perangkat
premium sehingga mereka gencar menawarkan skema cicilan. Konsumen, termasuk
Gen-Z, mendapatkan kepuasan instan saat membawa pulang dan membuka kemasan
produk kelas atas, sementara beban keuangan yang tidak terlihat perlahan
berpindah kepada orang tua.
Tragedi tersebut pada akhirnya menyoroti dampak lain dari obsesi konsumtif
terhadap keluarga pekerja yang selama bertahun-tahun bekerja dan menabung
demi meningkatkan taraf hidup.
Dalam situasi tertentu, mereka justru dapat terdorong masuk ke dalam siklus
utang konsumtif yang tidak sepenuhnya mereka pahami, termasuk harus
menanggung pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan sosial anak-anak mereka dan
menjaga ketenangan di dalam rumah.