Miris! Bu Guru Yustina Jalan 6 Km Keluar-Masuk Hutan untuk Mengajar, Digaji Cuma Rp150 Ribu
Oposisi Cerdas | Enam kilometer harus ditempuh Yustina Yuniarti dengan berjalan kaki setiap hari untuk mengajar di SDK Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Perjalanan itu baru dimulai setelah Yustina menumpang sepeda motor warga hingga batas kampung. Selebihnya, ia berjalan menyusuri jalur berbatu, hutan, hingga tepian jurang. Tak jarang, langkahnya terhenti untuk sekadar mengatur napas.
Dengan sandal jepit, rute tersebut sudah menjadi keseharian Yustina sejak mengajar di SDK Wukur pada 2016.
“Saya sudah mengabdi 11 tahun. Setiap pagi saya berjalan melewati jalan berbatu, rusak, hutan, bahkan pantai. Jaraknya sekitar 6 kilometer. Meski berat, saya lakukan ini demi anak-anak di sini,” katanya.
Ironisnya, perjalanan panjang itu hanya dibayar Rp150 ribu setiap bulan.
Honor Yustina bersumber dari iuran komite sekolah. Ia bersama guru honorer lainnya tidak mendapatkan alokasi dana BOS untuk gaji. Saat pertama kali mengajar, honor yang diterimanya bahkan hanya Rp15 ribu per bulan.
“Banyak orang tidak mau mengajar di sini karena kondisi jalan dan keuangan yang tidak memungkinkan. Tapi kami bertahan karena panggilan hati,” ujarnya.
Yustina juga bukan satu-satunya guru honorer yang bertahan dengan kondisi tersebut.
Kepala SDK Wukur, Tersiana Siti Rosa, mengatakan sekolah itu hanya memiliki satu guru ASN dari total delapan tenaga pendidik. Tujuh lainnya berstatus honorer dan menerima honor Rp150 ribu per bulan.
Sekolah tersebut kini menampung 34 siswa.
“Jumlah murid 34 orang dan tenaga pendidik 8 orang. ASN hanya satu orang, sedangkan tujuh lainnya honorer dengan gaji Rp150 ribu,” ungkapnya.
Besaran honor itu, kata Tersiana, jelas belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup guru, terutama mereka yang sudah berkeluarga. Namun, para guru tetap memilih bertahan.
“Honor tersebut tentu tidak mencukupi kebutuhan mereka, tetapi karena semangat mengabdi, mereka tetap bertahan mengajar,” ucapnya.
Kondisi sekolah pun tak jauh berbeda. Ruang kelas yang tersedia belum cukup untuk menampung seluruh kegiatan belajar. Satu ruangan harus dipakai dua tingkat kelas sekaligus dan hanya dipisahkan sekat sederhana.
Masalah lain muncul ketika sekolah membutuhkan internet. SDK Wukur belum memiliki jaringan internet. Saat ANBK, guru harus membawa siswa berjalan jauh ke kampung utama agar bisa menggunakan fasilitas sekolah lain.
Di tengah kondisi itu, para guru berharap pemerintah turun tangan. Mereka ingin SDK Wukur dinegerikan agar nasib dan kesejahteraan tenaga pendidik lebih jelas.
Akses menuju sekolah juga diharapkan dibenahi, disertai fasilitas dasar seperti rumah dinas bagi guru yang mengajar di wilayah terpencil.
Yustina juga berharap kebijakan penerimaan CPNS memberi ruang lebih besar bagi guru swasta yang selama ini mengajar di daerah terpencil.
“Kami juga berharap, jika ada seleksi CPNS, guru-guru swasta di daerah terpencil seperti kami bisa diprioritaskan,” ujarnya
Sumber: monitorIndonesia
Foto: Yustina berjalan melewati jalur hutan menuju sekolah tempatnya mengajar (Foto: Istimewa)
