Pemprov Papua Pegunungan Salurkan Rp20 Miliar untuk 1.674 Mahasiswa Studi Akhir
WAMENA, 7 September 2026 — Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan melalui Biro Pemerintahan, Otonomi Khusus dan Kesejahteraan Rakyat menyalurkan bantuan studi akhir dan studi khusus kepada 1.674 mahasiswa asal Papua Pegunungan yang sedang menempuh pendidikan di dalam maupun luar negeri.
Bantuan dengan pagu anggaran sebesar Rp20.007.500.000 tersebut diserahkan secara simbolis oleh Gubernur Papua Pegunungan John Tabo kepada perwakilan mahasiswa usai pelaksanaan apel pagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, Senin (7/9/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah daerah, sebanyak 2.428 proposal bantuan studi akhir telah masuk. Setelah melalui proses verifikasi dan penyesuaian data, sebanyak 1.674 mahasiswa ditetapkan sebagai penerima bantuan.

Dari jumlah tersebut, terdapat 333 mahasiswa semester bawah dan 421 mahasiswa yang berstatus drop out (DO) dalam data pengajuan yang masuk. Pemerintah daerah melakukan proses verifikasi dan sinkronisasi data untuk memastikan bantuan diberikan secara tepat sasaran serta menghindari adanya penerima ganda.
Besaran bantuan yang diberikan kepada mahasiswa berbeda-beda sesuai jenjang pendidikan dan kategori studi. Untuk mahasiswa Diploma III (D III) diberikan sebesar Rp8 juta per orang, S1 sebesar Rp10 juta, S2/Magister Rp20 juta, dan S3/Doktor Rp25 juta per orang.
Sementara itu, mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri mendapatkan bantuan Rp25 juta per orang, sedangkan mahasiswa kedokteran dan penerima bantuan untuk lisensi masing-masing mendapatkan Rp30 juta per orang.
Gubernur Papua Pegunungan John Tabo mengatakan, bantuan tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Papua Pegunungan.
“Awal kepemimpinan pemerintahan daerah otonomi baru ini kami punya visi dan misi. Salah satunya adalah di bidang sumber daya manusia. Karena itu, bantuan pendidikan ini menjadi perhatian kita,” kata John Tabo.
Ia menjelaskan, bantuan tersebut bersumber dari Dana Otonomi Khusus (Otsus) yang diperuntukkan bagi orang asli Papua (OAP), khususnya mahasiswa asal Papua Pegunungan yang sedang menyelesaikan pendidikan di dalam maupun luar negeri.
Menurut John, selain bantuan yang disalurkan melalui Biro Pemerintahan, Otonomi Khusus dan Kesejahteraan Rakyat, Pemprov Papua Pegunungan sebelumnya juga telah memberikan dukungan pendidikan melalui Dinas Pendidikan.
“Tahun lalu melalui Dinas Pendidikan kita sudah memberikan bantuan kepada sekitar 800 mahasiswa dan sekitar 500 mahasiswa telah menyelesaikan studinya. Tahun 2026 ini kita lanjutkan,” ujarnya.
John menegaskan, meskipun pemerintah menghadapi efisiensi anggaran, dukungan terhadap pendidikan mahasiswa Papua tetap menjadi prioritas karena pembangunan Papua Pegunungan membutuhkan SDM yang berkualitas.
“Walaupun ada efisiensi anggaran, karena kami merasa ini bagian dari Dana Otonomi Khusus bagi orang asli Papua, kami tetap ingin menjadi prioritas utama. Negeri ini hanya bisa dibangun dengan manusia-manusia yang memiliki sumber daya yang handal,” katanya.
Ia juga meminta mahasiswa penerima bantuan agar benar-benar serius menyelesaikan pendidikan dan kembali ke Papua Pegunungan untuk membangun daerah.
John mengatakan, pemerintah akan melakukan pendataan dan pengawasan lebih ketat terhadap mahasiswa yang mendapatkan bantuan, termasuk mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di luar Papua hingga luar negeri.

“Kami sudah memerintahkan dinas terkait dan Biro Pemerintahan untuk turun ke kota-kota studi, bahkan ke luar negeri, untuk mendata adik-adik kita dari Provinsi Papua Pegunungan yang betul-betul menuntut ilmu,” jelasnya.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan bantuan pemerintah tepat sasaran dan tidak kembali terjadi kasus mahasiswa yang mendapatkan bantuan namun tidak menyelesaikan pendidikannya.
“Kita tidak mau punya pengalaman-pengalaman yang lalu, banyak yang dikirim ke luar negeri tetapi mereka tidak kuliah. Karena itu, mulai sekarang kita akan kontrol. Betul atau tidak adik-adik yang kita bantu ini kuliah dengan benar,” tegas John.
Selain bantuan studi akhir, Gubernur John Tabo mengungkapkan bahwa Pemprov Papua Pegunungan sedang menyiapkan program pendidikan berbasis karakter yang rencananya akan diluncurkan pada Desember 2026.
Program tersebut akan diarahkan mulai dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA dengan penekanan pada pembentukan karakter, peningkatan kualitas pendidikan dan penguasaan bahasa internasional.
“Kita akan launching pola pendidikan berkarakter. Kita mulai membentuk karakter dari TK, PAUD, SD, SMP sampai SMA, sehingga kualitasnya mumpuni dan mereka memiliki kemampuan bahasa internasional,” katanya.
John berharap, dengan pembentukan karakter sejak dini, generasi muda Papua Pegunungan yang nantinya melanjutkan pendidikan ke luar daerah maupun luar negeri dapat membawa pulang ilmu dan keterampilan yang bermanfaat bagi pembangunan daerah.
Ia juga mendorong mahasiswa agar tidak hanya bercita-cita menjadi pegawai pemerintah, tetapi memiliki kemampuan profesional dan keterampilan yang dapat dikembangkan di berbagai bidang.

“Orang Papua sekarang harus berpikir ke sana. Jangan berpikir hanya mau menjadi pegawai. Kita harus punya keterampilan, bisa menjadi profesional, mengurus kebun, peternakan dan bidang lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Biro Pemerintahan, Otonomi Khusus dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Pegunungan, Adi Wetipo, S.IP, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bantuan studi akhir, bukan beasiswa.
“Totalnya ada 1.674 mahasiswa yang tahun ini dibantu Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan. Secara simbolis sudah diserahkan oleh Bapak Gubernur dan selanjutnya bantuan akan ditransfer langsung dari BANK ke rekening masing-masing mahasiswa,” kata Adi.
Ia berharap bantuan tersebut dapat membantu mahasiswa yang masih memiliki tunggakan biaya pendidikan maupun kebutuhan lain yang berkaitan dengan penyelesaian studi akhir.
Adi menegaskan, bantuan studi akhir memiliki nomenklatur yang berbeda dengan beasiswa. Beasiswa pendidikan berada pada Dinas Pendidikan, sementara bantuan studi akhir menjadi bagian dari Biro Pemerintahan, Otonomi Khusus dan Kesejahteraan Rakyat melalui bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra).
“Kalau beasiswa ada di Dinas Pendidikan. Kalau studi akhir ada di Biro Pemerintahan, Otonomi Khusus dan Kesra. Jadi ini nomenklaturnya bantuan, bukan beasiswa,” jelasnya.
Ia juga mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dan pencocokan data dengan instansi terkait untuk menghindari adanya penerima bantuan yang tercatat ganda.
“Kami sudah koordinasi dengan Pak Kadis dan teman-teman terkait dan sudah melakukan cross-check data. Data yang ada di masing-masing instansi kami cocokkan supaya jangan sampai terjadi pengulangan,” katanya.
Adi menambahkan, bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban mahasiswa yang masih memiliki tunggakan sehingga mereka dapat segera menyelesaikan pendidikan dan kembali ke Papua Pegunungan.
Perwakilan mahasiswa, Vitasya Heronia Kenelak, mahasiswa Nankai University, China, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan atas bantuan yang diberikan.
Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti bagi mahasiswa yang sedang berada pada tahap akhir pendidikan, terlebih di tengah kondisi biaya pendidikan dan kebutuhan hidup yang cukup berat.
“Di waktu yang sangat sulit seperti saat ini, pemerintah mau membantu kami mahasiswa studi akhir untuk menyelesaikan studi. Banyak sekali kebutuhan yang kami butuhkan. Pemerintah sudah membuka hati untuk membantu kami,” kata Vitasya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Pegunungan beserta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) yang telah memberikan perhatian kepada mahasiswa.
“Kami ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Gubernur, Bapak Wakil Gubernur Provinsi Papua Pegunungan maupun semua OPD yang sudah membantu kami dan memberikan bantuan studi akhir,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan berharap bantuan tersebut dapat mempercepat penyelesaian studi para mahasiswa penerima sehingga mereka dapat segera kembali ke daerah dan berkontribusi dalam pembangunan Papua Pegunungan1.674 Mahasiswa Terima Bantuan Studi Akhir, Pemprov Papua Pegunungan Prioritaskan SDM Berkualitas
The post Pemprov Papua Pegunungan Salurkan Rp20 Miliar untuk 1.674 Mahasiswa Studi Akhir first appeared on pembaruanpapua.com.