29 September 2026

kabarterkini24

Berita Terkini, Kabar Terkini dan Terupdate

Rudal Jelajah Iran Hantam Delapan Tentara AS

Oposisi Cerdas | Delapan personel Marinir AS terluka ketika sebuah rudal jelajah antikapal milik Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz pada 14 September. Angka ini menambah panjang daftar tentara AS yang terluka sejak mereka menyerang Iran.
NBC News  mengutip tiga pejabat AS melaporkan para Marinir tersebut bertugas sebagai bagian dari tim pendaratan batalyon. Tujuh orang di antaranya adalah personel tamtama dan satu orang adalah perwira. 
Menurut para pejabat tersebut, mereka mengalami gangguan akibat menghirup asap serta kemungkinan cedera otak traumatis, dengan gejala yang meliputi sakit kepala dan dampak lain yang menyerupai gegar otak.
Tidak ada satupun dari kedelapan personel tersebut yang mengalami cedera serius, dan semuanya kembali bertugas tak lama setelah serangan itu terjadi, ungkap para pejabat tersebut kepada NBC News.
Para pejabat itu menggambarkan sasaran serangan sebagai sebuah kapal laut namun tidak merinci jenis kapalnya. Mereka menyatakan bahwa kapal tersebut bukan merupakan kapal milik Angkatan Laut AS.
Kabar mengenai serangan di Hormuz muncul beberapa hari setelah The Washington Post melaporkan bahwa Pentagon telah menambahkan 37 personel yang terluka ke dalam daftar resmi korban perang melawan Iran. Penambahan tersebut mencakup 29 pelaut Angkatan Laut dan delapan anggota Marinir.
The Post menemukan data peningkatan jumlah korban tersebut melalui Defense Casualty Analysis System (DCAS), yakni basis data publik milik Pentagon yang mencatat personel yang tewas atau terluka dalam perang dan operasi luar negeri. Per Rabu pekan lalu, sistem tersebut mencatat 861 tentara AS terluka sejak perang dimulai.
Basis data tersebut tidak merinci kapan atau bagaimana ke-37 personel itu terluka. Seorang pejabat Angkatan Laut mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa ke-29 pelaut itu telah kembali bertugas, namun tidak menjelaskan jenis cedera yang mereka alami.
Menurut The Post, lebih dari separuh kasus cedera tercatat dalam kategori “Operasi Luar Negeri” dan terjadi sejak dimulainya gencatan senjata bulan Juli antara Washington dan Teheran—yang kemudian gagal. Data korban sebelumnya tercatat di bawah nama “Operation Epic Fury”, sebutan yang digunakan pemerintahan Trump untuk perang tersebut.
Penambahan data tersebut kembali menyoroti cara Pentagon mencatat jumlah korban jiwa dari pihak AS. Pekan lalu, The Washington Post—mengutip enam pejabat yang mengetahui catatan internal—melaporkan bahwa terdapat lima kasus kematian personel AS di Asia Barat yang tidak tercantum dalam basis data publik. Surat kabar tersebut menyatakan bahwa tidak semua kematian itu berkaitan langsung dengan pertempuran.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth membantah laporan tersebut; ia menyebut temuan itu tidak akurat dan menilai pemberitaannya “memuakkan.”
Pada saat itu, DCAS mencatat 18 kematian personel AS akibat serangan maupun insiden nonperang sejak AS dan Israel memulai perang pada 28 Februari. Angka tersebut naik menjadi 19 setelah meninggalnya seorang perwira Angkatan Darat yang mengalami keadaan darurat medis pada 18 September saat dalam perjalanan menuju Asia Barat.
The Intercept, dengan mengutip seorang pejabat Pentagon, melaporkan bahwa perwira tersebut sedang menaiki penerbangan militer menuju Arab Saudi dan kematiannya diklasifikasikan sebagai kejadian nonperang. DCAS memasukkan data kematian nonperang bersamaan dengan kematian yang disebabkan oleh tindakan musuh.