16 Juni 2026

kabarterkini24

Berita Terkini, Kabar Terkini dan Terupdate

Budiman Sudjatmiko Dicari Mahasiswa, Diteriaki ‘Pengkhianat Reformasi’ Saat Diskusi di Kampus UGM Ricuh

Budiman Sudjatmiko yang kini menjabat kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI,  menjadi sasaran utama kemarahan mahasiswa dalam diskusi bertajuk Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia di Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu malam, 13 Juni 2026.
Mantan aktivis reformasi 1998 itu bahkan diteriaki sebagai “pengkhianat reformasi” oleh massa mahasiswa yang mengambil alih jalannya forum diskusi.
Kericuhan bermula ketika mahasiswa mempertanyakan kondisi ekonomi dan berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Forum yang menghadirkan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono itu akhirnya berubah menjadi arena protes terbuka.
Berdasarkan dokumentasi yang beredar di media sosial, puluhan mahasiswa naik ke panggung dan menghentikan jalannya diskusi.
Mereka membentangkan poster bertuliskan UGM Menolak Pengkhianat Reformasi dan UGM Menolak Penjilat Rezim.
Mahasiswa secara khusus menyoroti posisi Budiman Sudjatmiko yang dahulu dikenal sebagai aktivis prodemokrasi, namun kini berada di lingkar kekuasaan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Mahasiswa Cari Budiman Sudjatmiko
Saat massa mulai bergerak menuju panggung dan meminta dialog langsung, Budiman diketahui sudah tidak berada di lokasi.
Kondisi itu justru memicu kemarahan mahasiswa yang berusaha mencari keberadaan kepala BP Taskin RI tersebut.
“Budiman, mana Budiman!”
“Katanya mau diskusi!” teriak massa berulang kali di sekitar lokasi acara.
Sejumlah mahasiswa bahkan terlihat berlari menuju area parkir dan gerbang kampus untuk mencari kendaraan yang diduga membawa Budiman meninggalkan lokasi.
Dalam pernyataannya, Serikat Mahasiswa UGM menyebut Budiman sebagai salah satu pejabat yang harus memberikan penjelasan atas berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.
Massa menilai kebijakan pemerintah, termasuk program pengentasan kemiskinan yang menjadi tanggung jawab BP Taskin, belum mampu menjawab berbagai persoalan ekonomi yang dirasakan rakyat.
Bagi sebagian mahasiswa, kemarahan terhadap Budiman tidak semata-mata ditujukan kepada seorang pejabat negara.
Budiman dipandang sebagai simbol perubahan posisi politik seorang mantan aktivis yang kini berada di dalam pemerintahan.
Karena itu, kritik yang diarahkan kepadanya juga sarat dengan kekecewaan terhadap figur yang dulu dikenal berada di barisan gerakan reformasi.
“Mahasiswa UGM Menolak Kehadiran Penjilat Rezim,” tulis akun BPMF Pijar Filsafat UGM yang mengunggah situasi aksi tersebut.
Forum Berubah Jadi Arena Protes
Kericuhan semakin meluas setelah mahasiswa mengambil alih forum dan menuntut para pejabat memberikan pertanggungjawaban moral atas kondisi Indonesia saat ini.
Nusron Wahid dan Sudaryono sempat menemui mahasiswa dan berdialog di sekitar gerbang selatan kampus.
Dalam dialog tersebut mahasiswa melontarkan pertanyaan langsung kepada para pejabat.
“Bapak merasa bersalah gak? (Atas persoalan bangsa)?” teriak mahasiswa.
“Lho semua orang punya salah,” jawab Nusron Wahid.
Namun dialog berlangsung buntu dan tidak menghasilkan titik temu. Sementara Budiman tidak lagi terlihat di lokasi hingga aksi berakhir.
Mahasiswa kemudian meneriakkan slogan “Revolusi! Revolusi!” berulang kali sebagai bentuk protes terhadap kondisi yang mereka nilai semakin jauh dari cita-cita reformasi.
Dalam pernyataannya, Serikat Mahasiswa UGM menegaskan aksi tersebut dilakukan untuk memperjuangkan nilai keadilan sosial, kemanusiaan, dan kedaulatan rakyat yang menurut mereka belum diwujudkan secara serius oleh pemerintah. (*)