2 September 2026

kabarterkini24

Berita Terkini, Kabar Terkini dan Terupdate

Rumor Duet KDM-Ahok 2029 Disebut ‘Testing the Water’, Pengamat: Bisa Bangkitkan Politik Identitas

Oposisi Cerdas | Wacana pasangan Kang Dedi Mulyadi (KDM) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai calon presiden-wakil presiden pada Pemilu 2029 kembali beredar di ruang publik. Isu itu belum dikonfirmasi secara resmi oleh PDI Perjuangan maupun figur yang disebut, tetapi sudah menjadi bahan analisis politik.
Pengamat kebijakan hukum dan politik Damai Hari Lubis menilai kabar tersebut masih perlu dibaca hati-hati. Menurutnya, isu pairing KDM-Ahok bisa jadi sekadar testing the water atau lemparan wacana dari kalangan politisi, bukan keputusan final partai.
Dalam catatan yang beredar, rumor itu dikaitkan dengan perbandingan formasi kabinet. Nama Abraham Samad, mantan Ketua KPK yang kini aktif di ruang publik, turut disebut dalam rangkaian spekulasi itu. PDIP sendiri hingga saat ini belum merilis keputusan pencalonan capres-cawapres 2029.
Risiko politik identitas
Damai Hari Lubis memperingatkan dampak elektoral jika Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri benar-benar mengunci skenario KDM-Ahok. Ia menilai kombinasi itu berpotensi menyulut perlawanan berbasis politik identitas.
Dari sisi peta partai, ia memprediksi Anies Baswedan akan sulit memperoleh tiket dari partai-partai besar. Menurut analisisnya, partai yang masih punya kursi di Senayan cenderung merapat ke kubu penguasa. Jika Anies maju, peluangnya lebih mungkin datang dari partai baru atau partai yang tidak lolos parlemen.
Karena itu, Lubis memproyeksikan pasangan petahana Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka masih unggul telak pada 2029. Ia bahkan menambahkan skenario lain: jika Gibran berpasangan dengan Anies, dan rival utamanya hanya KDM-Ahok, peluang Gibran-Anies dinilainya lebih besar.
Fakta di lapangan berbeda dari rumor
Secara kelembagaan, posisi kedua tokoh yang dirumorkan belum bertemu di satu partai. Dedi Mulyadi saat ini Gubernur Jawa Barat dan kader Gerindra. Ahok tetap di PDIP sebagai Ketua Bidang Perekonomian DPP periode 2025-2030.
Yang membuat isu ini ramai adalah kenaikan elektabilitas KDM dalam sejumlah survei mutakhir menuju 2029. Survei Tempo Data Science menempatkan Dedi Mulyadi di angka sekitar 42 persen, di atas Prabowo (15 persen) dan Anies (10 persen). Temuan serupa juga muncul di survei SMRC. Angka itu belum otomatis menjadi tiket pencalonan, tetapi cukup untuk memicu spekulasi koalisi.
Ahok, di sisi lain, kembali menempati posisi strategis di struktur PDIP setelah Kongres VI 2025. Statusnya sebagai kader banteng masih tercatat, meski namanya kerap masuk bursa spekulasi politik nasional.
Belum ada keputusan resmi
Pilpres 2029 masih tiga tahun lagi. Ambang batas pencalonan presiden sudah dihapus Mahkamah Konstitusi sehingga peta kandidat lebih terbuka. Meski demikian, sampai ada pernyataan resmi dari PDIP, Gerindra, KDM, maupun Ahok, pairing KDM-Ahok tetap berstatus rumor.
Analisis Lubis lebih tepat dibaca sebagai peringatan politik, bukan pengumuman pencalonan. Pertanyaan yang tersisa sama seperti yang ia ajukan: apakah isu ini uji air yang serius, atau hanya lemparan wacana menjelang konsolidasi 2029?