Amarah Adhyaksa Dault terhadap Pernyataan Tiyo Ardianto Beri Nama Kucing ‘Prabodoh Subiantolol’
Pernyataan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, kembali menjadi sorotan publik setelah ia menceritakan kisah seekor kucing yang ia selamatkan dan beri nama sarkastis “Prabodoh Subiantolol”. Pernyataan tersebut dinilai banyak pihak sebagai bentuk penghinaan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Dalam video yang beredar luas di media sosial, Tiyo Ardianto bercerita tentang pengalamannya merawat seekor kucing yang menderita penyakit scabies (kudis). “Saya lihat ada kucing yang scabies, gemuk sekali badannya, tapi kepalanya itu dihinggapi jamur scabies yang membuat dia jadi nggak bisa melihat. Saya kasih nama kucing itu Prabodoh Subiantolol,” ujar Tiyo dalam pernyataannya.
Pernyataan itu disampaikan Tiyo dalam konteks kritik terhadap pemerintahan Prabowo, khususnya terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan gaya kepemimpinan presiden. Tiyo, yang kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Filsafat UGM, dikenal vokal mengkritik kebijakan pemerintah saat menjabat sebagai Ketua BEM UGM periode 2025.
Reaksi Keras Adhyaksa Dault
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Adhyaksa Dault, tak kuasa menahan amarah setelah mendengar pernyataan Tiyo. Adhyaksa menilai ucapan tersebut sudah melampaui batas kritik yang wajar dan berubah menjadi penghinaan langsung terhadap kepala negara.
“Astagfirullah… ini bukan kritik lagi, ini penghinaan,” kata Adhyaksa dalam responsnya yang beredar di media sosial dan platform berita. Ia menekankan bahwa sebagai mantan pemimpin organisasi mahasiswa ternama seperti BEM UGM, Tiyo seharusnya menjaga etika dalam menyampaikan aspirasi.
Adhyaksa menyatakan bahwa sikap Tiyo tidak lagi mewakili suara mahasiswa yang konstruktif, melainkan provokatif dan mencari popularitas pribadi. Reaksi Adhyaksa ini mendapat dukungan dari sebagian netizen yang melihat pernyataan Tiyo sebagai bentuk ketidakpantasan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
“5 tahun saya menteri, sebelumnya saya KNPI, sebelumnya HMI, sebelumnya saya seperti kamu sama saya Ketua Senat mahasiswai kamu ketua BEM kan, tapi saya belum pernah kasih statment, walaupun 10 tahun saya tidak suka dengan kebijakan Jokowi saya tidak pernah berkata kasar seperti kamu, dan saya belum pernah dengar berkata kasar seperti kamu terhadap kepala negara,” katanya.
Adhyaksa Dault bahkan sampai memarahi Tiyo pada video tersebut.
“Itu luar biasa kamu nauzubillah, kenapa kamu ngomong begitu, gak boleh kayak gitu yah,” katanya.
Ia mengatakan selama ini tidak pernah menanggapi dan mengeluarkan statment apapun perihal kondisi pemerintahan.
“Hari ini saya baru ngomong karena saya kesal melihat kamu dan walaupun sebelah kamu tuh tertawa-tawa, saya gak suka dengan sikap kamu seperti itu,” katanya.
Dia mengatakan awalnya bersimpati pada Tiyo.
Tiyo memang belakangan menjadi perbincangan karena dinilai sebagai mahasiswa yang berani mengkritik tajam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ia mengkritik progra makan bergizi gratis (MBG), nilai tukar rupiah yang anjlok, hingga teranyar harga BBM yang membumbung tinggi.
“Kasihan kamu, pada mulanya saya simpati. Kritik pemerintah ok, kita mengkitakan jangan mengkaukan ok. Tapi ini sudah kelewatan kamu menghina kepala daerah,” kata Adhyaksa Dault.
Bahkan Adhyaksa Dault mengumpamakan jika ayah Tiyo yang diperlakukan demikian oleh orang lain.
“Coba kalau bapakmu digitukan sama orang sakit hati gak kamu ? sakit hati gak bapakmu ? Jangan, pak Prabowo tuh orang tua, senior, seumuran dengan bapak saya barangkali,” katanya.
Adhyaksa Dault memastikan bahwa ucapannya tidak ditunggangi pihak manapun.
“Dari suara hati saya sendiri,” kata Adhyaksa Dault.
Respons Publik dan Potensi Sanksi
Pernyataan Tiyo juga menuai perhatian dari pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. Hotman mempertanyakan apakah pihak rektorat UGM akan menjatuhkan sanksi terhadap alumnusnya tersebut, mengingat dampak yang ditimbulkan terhadap citra kampus.
Sementara itu, beberapa kelompok massa dilaporkan turun ke kampus UGM untuk mengecam Tiyo, dengan spanduk yang menyatakan bahwa suaranya tidak mewakili seluruh mahasiswa UGM.
Hingga berita ini diturunkan, Tiyo Ardianto belum memberikan respons resmi terhadap kritik yang dialamatkan kepadanya. Polemik ini semakin mempertajam perbedaan pandangan antara kelompok pendukung pemerintah dan kalangan aktivis mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan Prabowo.
Kasus ini menjadi pengingat bagi publik tentang batas antara kebebasan berpendapat dan penghinaan terhadap institusi kepresidenan di era pemerintahan saat ini.
