Dosen STKIP PGRI Papua Raih Best Poster Presenter di ICBME 2026 Thailand, Bawa Riset Merbau Papua ke Forum Internasional
HAT YAI, THAILAND — Dosen STKIP PGRI Papua, Roy M. Rahanra, menorehkan prestasi di forum akademik internasional setelah meraih penghargaan Best Poster Presenter pada International Conference on Biosciences and Biomedical Engineering (ICBME) 2026 yang berlangsung di Thailand, 26–28 Agustus 2026.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas presentasi ilmiah yang dibawakan Roy dalam sesi poster presentation, sekaligus membawa penelitian mengenai tanaman merbau (Intsia spp.) asal Papua ke hadapan akademisi, peneliti, dan ilmuwan dari berbagai negara.
ICBME 2026 mempertemukan peserta dari 34 negara dari berbagai kawasan Asia dan Eropa. Konferensi yang diselenggarakan oleh Universiti Teknologi Malaysia (UTM) tersebut menjadi forum pertukaran pengetahuan dan perkembangan riset di bidang biosains serta biomedis, dengan dua kategori utama presentasi, yakni oral presentation dan poster presentation.
Dalam konferensi tersebut, Roy tampil sebagai presenter keenam dengan mengangkat penelitian berjudul “Ethnobotanical Study of Merbau Plant Health in Papua (Intsia spp)”.
Penelitian Roy berangkat dari kekayaan pengetahuan tradisional masyarakat Papua dalam memanfaatkan tumbuhan untuk kebutuhan kesehatan. Salah satu tanaman yang menjadi perhatian adalah merbau (Intsia spp.), yang selama ini dikenal sebagai salah satu sumber daya hayati penting di Papua.
Penelitian tersebut mengkaji pemanfaatan sejumlah bagian tanaman merbau, terutama daun dan kulit batang, yang secara tradisional dimanfaatkan oleh masyarakat di Serui sebagai obat.
Dari perspektif ilmiah, riset ini diarahkan untuk mengidentifikasi dan mengkaji potensi senyawa bioaktif yang terdapat pada organ tanaman merbau, termasuk kemungkinan aktivitasnya terhadap mikroorganisme penyebab penyakit.
Salah satu fokus yang menjadi perhatian adalah potensi pengembangan bahan alami yang berkaitan dengan agen antimikroba untuk mendukung riset penyakit infeksi, termasuk tuberkulosis (TBC) dan diare.
Roy menegaskan, penelitian tersebut masih berada pada tahap pendahuluan. Hasil awal menunjukkan adanya daya hambat terhadap bakteri uji. Temuan tersebut menjadi dasar untuk melanjutkan penelitian melalui tahapan pengujian yang lebih komprehensif.
“Hasil penelitian ini masih pada tahap pendahuluan. Kami telah menemukan adanya daya hambat pada bakteri uji dan hasil awal tersebut yang kami bawa untuk dipresentasikan dalam forum internasional,” ujar Roy.
Menurutnya, forum ICBME 2026 memberikan kesempatan penting untuk memperkenalkan riset berbasis sumber daya alam Papua sekaligus memperoleh masukan akademik dari peneliti dan ilmuwan dari berbagai negara.
“Penelitian ini merupakan bagian dari keseriusan kami dalam melihat potensi sumber daya alam Papua, khususnya merbau, untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan,” katanya.
Roy menilai penelitian terhadap merbau memiliki ruang pengembangan yang luas. Namun, ia menekankan bahwa perjalanan dari pemanfaatan tradisional menuju kandidat bahan obat membutuhkan proses ilmiah yang panjang dan terukur.
Penelitian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi senyawa aktif secara lebih spesifik, memahami mekanisme aktivitas biologisnya, menguji tingkat keamanan, serta melalui tahapan pengujian yang sesuai dengan standar pengembangan bahan obat.
Karena itu, hasil awal penelitian tersebut tidak dimaknai sebagai temuan obat yang telah siap digunakan, melainkan sebagai indikasi ilmiah awal yang membutuhkan verifikasi dan penelitian lebih lanjut.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar kekayaan biodiversitas Papua dapat dikembangkan melalui penelitian yang memiliki dasar ilmiah kuat, sekaligus tetap menghargai pengetahuan tradisional masyarakat yang menjadi bagian dari sumber awal penelitian.
Prestasi di forum internasional tersebut juga mendorong Roy untuk berharap adanya perhatian dan dukungan lebih besar terhadap pengembangan penelitian berbasis potensi lokal di Kabupaten Kepulauan Yapen.
Ia berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Yapen dapat membuka ruang fasilitasi dan kolaborasi bagi penelitian yang mengangkat kekayaan sumber daya alam daerah, khususnya yang memiliki prospek untuk dikembangkan dalam bidang kesehatan.
“Harapan utama saya adalah Pemerintah Daerah Yapen dapat memberikan dukungan dan memfasilitasi penelitian ini hingga nantinya dapat menemukan kandidat obat yang berpotensi untuk membantu penanganan penyakit TBC. Tentunya proses tersebut membutuhkan penelitian yang panjang, dukungan fasilitas, pendanaan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak,” ungkapnya.
Menurut Roy, dukungan pemerintah daerah dapat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem riset yang menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga penelitian, serta mitra akademik di tingkat nasional dan internasional.
Ia menilai Papua memiliki kekayaan biodiversitas yang sangat besar, tetapi potensi tersebut membutuhkan penelitian yang konsisten agar dapat menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Potensi sumber daya alam Papua sangat besar. Yang dibutuhkan adalah penelitian yang serius, berkelanjutan, dan kolaboratif sehingga kekayaan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Saat ini, Roy M. Rahanra juga sedang menyelesaikan studi doktoral di Universitas Udayana, Bali. Pengalaman akademik dan penelitian tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan untuk memperkuat kontribusi ilmiah dari Papua.
Raihan Best Poster Presenter ICBME 2026 menjadi capaian akademik yang memperkuat kiprah civitas akademika STKIP PGRI Papua dalam membawa penelitian berbasis potensi lokal ke ruang ilmiah internasional.
Dari Serui menuju panggung akademik internasional di Thailand, penelitian merbau yang dibawa Roy memperlihatkan bagaimana biodiversitas Papua dan pengetahuan lokal dapat menjadi titik awal bagi pengembangan riset modern yang berorientasi pada kesehatan dan kemanfaatan bagi masyarakat.
The post Dosen STKIP PGRI Papua Raih Best Poster Presenter di ICBME 2026 Thailand, Bawa Riset Merbau Papua ke Forum Internasional first appeared on pembaruanpapua.com.