Survei Terbaru, Elektabilitas Dedi Mulyadi Salip Prabowo
Oposisi Cerdas | Laporan survei nasional terbaru dari Tempo Data Science 31 Juli–11 Agustus 2026 memperlihatkan pergeseran peta politik nasional menjelang tahun ketiga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Penurunan signifikan pada approval rating pemerintah berjalan beriringan dengan dinamika baru pada persepsi ekonomi masyarakat, evaluasi program unggulan, hingga konfigurasian elektabilitas figur politik.
Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo – Gibran berada di angka 37 persen yakni 34 persen puas dan 3 persen sangat puas, dengan rata-rata skor kinerja 5,7 dari 10.
Angka ini mencerminkan tren penurunan bertahap jika dibandingkan dengan periode Desember 2025 yang mencapai 75 persen dan Maret 2026 berada di angka 58 persen. Sebaliknya, proporsi ketidakpuasan mencapai 62 persen.
Publik menyoroti tingginya harga kebutuhan pokok 36 persen, perekonomian yang sulit 23 persen, serta minimnya lapangan pekerjaan 16 persen sebagai masalah utama yang sedang dihadapi.
Penilaian terburuk terkait penciptaan lapangan kerja tercatat paling tinggi di wilayah Jawa Barat.
Di sisi program prioritas pemerintah, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tercatat telah menjangkau lebih dari separuh keluarga, di mana 57 persen responden menyatakan ada anggota keluarganya yang menjadi penerima program ini.
Meski memiliki jangkauan yang luas, tingkat kepuasan penerima masih menjadi catatan merah. Dari total keluarga penerima MBG, lebih dari separuh 51 persen menyatakan belum puas, dengan rincian 43 persen kurang puas dan 8 persen tidak puas sama sekali terhadap pelaksanaannya.
Sebaliknya, program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) justru mendapatkan tingkat kepuasan tertinggi sebesar 95 persen.
Menurunnya tingkat kepuasan kinerja pemerintah ini berimbas langsung pada elektabilitas tokoh politik.
Dinamika yang paling mengejutkan adalah melesatnya nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).
Dedi Mulyadi bukan hanya menjadi top of mind publik, namun juga mendominasi elektabilitas.
Dalam simulasi pilihan nama calon presiden, Dedi Mulyadi unggul telak dengan meraih 42 persen suara, meninggalkan Prabowo Subianto di posisi kedua dengan 15 persen suara.
Di posisi selanjutnya terdapat Anies Rasyid Baswedan 10 persen dan Gibran Rakabuming Raka 6 persen.
Survei menemukan bahwa kedekatan dengan rakyat 25 persen menjadi pertimbangan utama pemilih dalam menentukan presiden, kriteria yang selama ini lekat dengan citra Dedi Mulyadi.
Berbeda dengan pilihan calon presiden yang dinamis, peta dukungan terhadap partai politik cenderung stabil menyerupai hasil Pemilu 2024.
Partai Gerindra memimpin tipis dengan elektabilitas 20 persen, disusul oleh PDI Perjuangan 16 persen, dan Partai Golkar 10 persen.
PDI Perjuangan juga dinilai oleh mayoritas responden 26 persen sebagai partai oposisi paling kuat saat ini.
Terkait isu politik dinasti yang kerap diperbincangkan, masyarakat rupanya memiliki pandangan yang cukup pragmatis.
Sebanyak 47 persen responden menganggap wajar pencalonan keluarga pejabat dalam pemilu asalkan mereka memiliki kemampuan, dan 18 persen lainnya memaklumi hal tersebut karena dianggap sebagai hak politik setiap warga negara.
Sumber: suara
Foto: Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. [Reza Deny/Harapanrakyat]
