Serangan Israel Tewaskan Gadis Palestina dan Ayahnya di Hari Pertama Ia Bersekolah
Oposisi Cerdas | Serangan Israel menewaskan gadis Palestina berusia delapan tahun, Wafaa Akila, bersama ayahnya di Gaza Barat
Gadis Palestina berusia delapan tahun, Wafaa Akila, dan ayahnya, Youssef (36 tahun), tewas dalam serangan Israel terhadap mobil mereka di Kota Gaza bagian barat. Insiden terjadi pada hari pertama tahun ajaran baru, saat banyak keluarga sedang kembali ke rutinitas sekolah.
Menurut laporan, serangan itu menimpa kendaraan sipil di Jalan Al Shifa, Gaza barat. Jenazah keduanya dibawa ke Rumah Sakit Al Shifa bersama beberapa korban luka lainnya.
Wafaa Yousef Nabil Akila seharusnya berusia sembilan tahun pada 11 November. Kematiannya terjadi tepat pada hari pertama sekolahnya. Foto dirinya memakai seragam sekolah kemudian dibagikan juru bicara Hamas, Hazem Qassem, yang mengecam serangan itu dan menyoroti kurangnya respons internasional.
Gambar yang beredar di media sosial menunjukkan buku, buku catatan, dan perlengkapan sekolah Wafaa berserakan di lokasi serangan. Tas sekolahnya juga terlihat di antara puing-puing.
Beberapa media menekankan bahwa tentara Israel belum memberikan keterangan spesifik mengenai serangan ini. Adegan tersebut digambarkan sebagai gambaran kesulitan anak-anak Gaza untuk menjalani kehidupan normal dan melanjutkan pendidikan di tengah konflik.
Di Tepi Barat, sekitar 846.000 siswa Palestina kembali ke sekolah pada hari yang sama untuk menandai dimulainya tahun ajaran 2026/2027. Mereka tersebar di 2.537 sekolah negeri, swasta, dan sekolah yang dikelola UNRWA.
Sementara itu, tahun ajaran di Gaza dijadwalkan dimulai 16 September 2026 untuk staf administrasi dan pengajar, dengan siswa diharapkan kembali ke kelas pada 19 September. Pihak berwenang menyiapkan sekitar 700 titik pembelajaran tatap muka dan 25 sekolah sementara agar sekitar 541.000 siswa tetap bisa belajar sesuai kondisi yang ada.
Di Tepi Barat Utara, pasukan Israel dilaporkan menggerebek dua sekolah di Provinsi Nablus pada hari pertama tahun ajaran, termasuk masuk ke Sekolah Menengah Putra Huwwara dan meminta bendera Palestina diturunkan. Tahun ajaran baru ini berlangsung di tengah meningkatnya serangan tentara Israel dan pemukim Yahudi di Tepi Barat yang juga menyasar fasilitas pendidikan.
