Purbaya Dicopot Empat Hari Setelah Bantah Isu Jual Beli Jabatan Rp100 Miliar
Oposisi Cerdas | Presiden Prabowo Subianto mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan pada Senin (14/9/2026) sore. Posisi itu langsung diisi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, yang dilantik di Istana Negara berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 97/P Tahun 2026.
Purbaya baru menjabat sekitar satu tahun. Ia dilantik 8 September 2025 menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Saat pelantikan penggantinya berlangsung, Purbaya sedang rapat dengan Komite IV DPD RI di Senayan. Rapat dihentikan setelah ada telepon dari Menteri Sekretaris Negara. Purbaya meninggalkan ruangan dan tidak kembali.
Istana tidak merinci alasan resmi. DPR menilai pergantian menteri sebagai hak prerogatif presiden. Wakil Ketua Komisi XI Fauzi Amro mengatakan presiden yang paling tahu siapa yang layak menghadapi situasi perekonomian saat ini.
Isu Rp100 miliar muncul empat hari sebelumnya
Pencopotan ini terjadi hanya empat hari setelah Purbaya secara terbuka menepis rumor viral di TikTok soal jual beli jabatan di Kementerian Keuangan. Dalam pelantikan ratusan pejabat eselon II–III di Kemenkeu, Kamis (10/9), Purbaya menyebut isu itu sebagai rumor.
“Di TikTok, katanya Pak Purbaya ngumpulin uang Rp100 miliar, ke posisi-posisi tertentu. Saya bingung dari mana isu itu keluar. Tapi itu rumor saja. Ini benar-benar berbasis profesional,” katanya.
Ia menegaskan pengisian jabatan melibatkan usulan unit kerja, penilaian Sekretaris Jenderal, dan konfirmasi pejabat eselon I. “Kalau saya pernah terima uang, isu Rp100 miliar itu pasti laku dengan cepat. Untung saya nggak pernah terima. Integritas itu amat penting,” ujarnya.
Rumor itu muncul bersamaan dengan perombakan besar-besaran pejabat di Kemenkeu. Sejumlah media kemudian menempatkan isu tersebut sebagai salah satu polemik di penghujung masa jabatan Purbaya, bersama kontroversi lain. Namun hingga kini tidak ada pengumuman resmi yang menyatakan isu itu sebagai alasan pencopotan.
Tekanan fiskal dan kepercayaan pasar
Analis dan media asing lebih banyak menyoroti tekanan ekonomi. Masa jabatan Purbaya diwarnai pelemahan rupiah, perubahan outlook rating oleh lembaga pemeringkat, gesekan dengan Bank Indonesia soal likuiditas, serta polemik setoran dividen Danantara sekitar Rp120 triliun ke APBN.
Ekonom CELIOS Bhima Yudhistira menilai ada masalah koordinasi internal, termasuk soal restitusi pajak dan gaya komunikasi yang dinilai overconfidence. Ia juga menyinggung ketegangan terkait dividen Danantara. Ekonom lain melihat pergantian ini sebagai penyegaran untuk meredam ketidakpastian pasar.
Financial Times dan Reuters menulis bahwa penggantian terjadi setelah setahun Purbaya memimpin di tengah krisis kepercayaan investor. IHSG sempat tertekan, lalu memangkas koreksi setelah kabar reshuffle menyebar.
Mandat ke Menkeu baru: jaga kredibilitas APBN
Suahasil Nazara, yang sudah menjadi Wamenkeu sejak 2019, mengaku baru mendapat telepon Istana Senin pagi. Usai dilantik, ia menyampaikan arahan khusus Presiden: jaga kesehatan dan kredibilitas keuangan negara, serta pastikan defisit APBN tetap di bawah 3 persen.
“APBN harus sehat dan harus dapat dipercaya. Saya akan terus menjalankan APBN yang dapat dipercaya, komunikasi publik yang dapat dipercaya, dan memastikan APBN mendukung program prioritas pemerintah,” kata Suahasil.
Ia menekankan ini kelanjutan kerja Kemenkeu, bukan perubahan total. Di kantor kementerian, ia meminta pegawai tetap solid dan menjaga reputasi lembaga.
Pergantian ini menjadi reshuffle kedua di kursi Menkeu era Prabowo. Purbaya sendiri belum memberikan pernyataan resmi setelah dicopot. Apakah isu jual beli jabatan Rp100 miliar menjadi faktor, atau hanya salah satu dari rangkaian polemik yang menumpuk, belum dijelaskan pemerintah. Yang jelas, presiden memilih figur yang sudah lama di dalam kementerian untuk meredam ketidakpastian di pasar dan di internal fiskal.
