AirNav Indonesia Pastikan Keselamatan Penerbangan, Puluhan Jadwal di Bandara Wamena Terganggu Akibat Kabut Asap
WAMENA – Kabut asap yang menyelimuti wilayah Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, semakin parah dan berdampak terhadap operasional penerbangan di Bandara Wamena. Jarak pandang yang menurun hingga sekitar 500 meter menyebabkan penerbangan pesawat kargo maupun sipil mengalami pembatalan karena kondisi belum memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan.
Air Traffic Controller (ATC) AirNav Indonesia di Bandara Wamena, Abraham Sanggew, menjelaskan bahwa kabut asap dapat menurunkan jarak pandang (visibility) serta jarak pandang landasan pacu atau Runway Visual Range (RVR), apabila tersedia. Kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan.
Air Traffic Controller (ATC) AirNav Indonesia di Bandara Wamena, Abraham Sanggew, menjelaskan bahwa kabut asap dapat menurunkan jarak pandang (visibility) serta jarak pandang landasan pacu atau Runway Visual Range (RVR), apabila tersedia. Kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan.
“Jarak pandang yang tidak memenuhi persyaratan operasional dapat menyebabkan penundaan atau pembatasan keberangkatan,” ungkap Abraham di ruang Aerodrome Control (ADC) Bandara Wamena, Senin (19/10/2026).
Ia mengatakan, berkurangnya referensi visual dapat menyulitkan pilot saat melakukan pendekatan dan pendaratan. Apabila kondisi tersebut tidak memenuhi ketentuan operasional, penerbangan berpotensi mengalami penundaan, pembatalan, holding atau menunggu di udara, hingga pengalihan ke bandar udara alternatif (diversion).
Menurut Abraham, kondisi cuaca di Bandara Wamena juga perlu dipantau dengan mempertimbangkan faktor lain, seperti awan rendah, hujan, angin, serta karakteristik medan pegunungan di wilayah tersebut.
Karena itu, setiap keputusan operasional penerbangan harus didasarkan pada kondisi aktual, laporan cuaca resmi, kemampuan pesawat, serta prosedur keselamatan yang berlaku.
Dalam situasi ini, AirNav Indonesia berperan memantau kondisi operasional, menyampaikan informasi penerbangan secara tepat waktu, serta menjaga koordinasi dengan unit terkait guna mendukung keselamatan lalu lintas udara.
Abraham menjelaskan, pemantauan dilakukan dengan memanfaatkan informasi meteorologi, seperti METAR, SPECI, dan TAF, laporan dari unit meteorologi, serta pengamatan kondisi aktual sesuai fasilitas yang tersedia.
Informasi yang telah diverifikasi kemudian disampaikan kepada pilot melalui frekuensi komunikasi yang sesuai dengan menggunakan fraseologi penerbangan standar. AirNav juga berkoordinasi dengan BMKG atau unit meteorologi setempat, unit pelayanan lalu lintas penerbangan (ATS), serta pengelola bandar udara sesuai kewenangan masing-masing.
Selain itu, setiap informasi penting, hasil koordinasi, dan tindakan operasional didokumentasikan sesuai prosedur untuk menjaga ketertelusuran pelayanan dan keselamatan penerbangan.
“Prinsip utamanya adalah informasi cuaca harus disampaikan sedini mungkin agar pilot dapat mempertimbangkan pilihan operasional berdasarkan informasi yang memadai,” jelasnya.
Abraham menambahkan, apabila perubahan cuaca signifikan terjadi ketika pesawat sedang dalam penerbangan, ATC harus segera menilai relevansi informasi tersebut terhadap keselamatan penerbangan dan menyampaikannya melalui komunikasi ATS sesuai wilayah tanggung jawab serta prosedur yang berlaku.
Informasi yang disampaikan mencakup laporan meteorologi resmi, pengamatan kondisi aktual, dan laporan pilot atau Air Report (AIREP), apabila tersedia. Koordinasi dengan unit ATS lain juga dilakukan jika pesawat membutuhkan informasi lanjutan atau berpotensi memasuki wilayah pelayanan unit tersebut.
Di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti Lembah Baliem, Abraham mengungkapkan bahwa jumlah pergerakan pesawat di Bandara Wamena pada periode 8 hingga 18 Oktober 2026 tercatat sekitar 37 pergerakan, yang dihitung berdasarkan aktivitas pendaratan (landing) dan lepas landas (take-off).
Jumlah tersebut berada di bawah rata-rata pergerakan penerbangan sebelum kabut asap terjadi.
Ia menegaskan, fokus utama AirNav dalam menghadapi kondisi ini adalah menjaga keselamatan penerbangan melalui pemantauan cuaca dan jarak pandang, penyampaian informasi yang akurat kepada penerbang, serta koordinasi dengan BMKG, unit ATS terkait, dan pemangku kepentingan bandar udara.
Menurutnya, keberhasilan pelayanan penerbangan tidak hanya diukur dari jumlah pesawat yang dilayani, tetapi juga dari ketepatan informasi, kualitas koordinasi, kepatuhan terhadap prosedur, serta kemampuan menjaga keselamatan di tengah kondisi cuaca yang berubah-ubah.
The post AirNav Indonesia Pastikan Keselamatan Penerbangan, Puluhan Jadwal di Bandara Wamena Terganggu Akibat Kabut Asap first appeared on pembaruanpapua.com.