8 September 2026

kabarterkini24

Berita Terkini, Kabar Terkini dan Terupdate

Nama Gus Kautsar Dicantumkan di Buku ‘Islam Ala Prabowo’, Keluarga Pertanyakan Izin Penulisannya

Oposisi Cerdas | Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam kembali menjadi sorotan.
Kali ini bukan hanya karena judulnya, tetapi karena sejumlah nama tokoh agama yang tercantum sebagai penulis atau kontributor justru mempertanyakan keterlibatan mereka.
Salah satu yang mencuat adalah nama KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri.
Dalam buku tersebut, nama Gus Kautsar tercantum pada halaman 318 sebagai penulis tulisan berjudul “Dukungan Pesantren untuk Presiden Prabowo Subianto.” Namun, keluarga Gus Kautsar kemudian mempertanyakan bagaimana nama tersebut bisa dicantumkan.
Ning Jazilah Annahdliyah, istri Gus Kautsar, menyampaikan keberatannya melalui media sosial.
“Kok bisa ada nama suami saya?? pdhl gus kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya di buku itu??!!” tulis Jazilah.
Pernyataan tersebut membuat polemik buku tersebut bergeser dari sekadar perdebatan mengenai isi dan judul menjadi persoalan mengenai prosedur pencantuman nama tokoh sebagai kontributor.
Bukan cuma Gus Kautsar
Persoalan serupa juga muncul pada nama Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi.
Nama TGB tercantum pada halaman 241 untuk tulisan mengenai Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan.
Namun ketika ditanya mengenai keterlibatannya, TGB memberikan jawaban singkat.
“Saya tidak pernah kirim tulisan,” kata TGB.
Dua bantahan tersebut membuat publik mempertanyakan mekanisme penyusunan buku, khususnya mengenai sumber materi yang kemudian dicantumkan dengan nama tokoh tertentu.
Sampai penelusuran terbaru, belum ditemukan penjelasan rinci dari penerbit maupun tim penyusun yang menerangkan bagaimana materi atas nama Gus Kautsar dan TGB dapat tercantum dalam buku tersebut.
Keluarga Gus Kautsar: Nama kiai bukan alat legitimasi
Keberatan terhadap pencantuman nama Gus Kautsar juga disampaikan melalui akun Instagram yang berafiliasi dengan Gus Kautsar, @nderekpusat_official.
Akun tersebut menyoroti pentingnya etika ketika menggunakan nama, pendapat atau tulisan seorang ulama dalam sebuah karya.
“Nama Kyai kami bukan alat untuk memperkuat legitimasi sebuah buku, apalagi untuk kepentingan politik.”
Pernyataan itu kemudian menekankan bahwa jika seseorang memang hendak mencantumkan nama atau pemikiran Gus Kautsar, prosesnya semestinya dilakukan dengan komunikasi dan permintaan izin yang jelas.
Pesan tersebut menjadi inti keberatan pihak keluarga: bukan soal siapa saja yang terlibat dalam buku, melainkan soal prosedur dan persetujuan atas penggunaan nama seorang tokoh.
Buku diluncurkan sejak 2025
Buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri dan Mush’ab Muqoddas serta diterbitkan Atmosphere Publishing House.
Buku tersebut dilaporkan memiliki sekitar 346 halaman dan diluncurkan pada Agustus 2025 dalam rangkaian kegiatan Rakornas BAZNAS.
Buku tersebut diinisiasi oleh Ketua MPR Ahmad Muzani bersama Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar.
Isinya menghimpun pandangan sejumlah tokoh agama, akademisi, politisi dan tokoh nasional mengenai sisi keislaman Prabowo Subianto.
Karena itulah pencantuman nama tokoh menjadi bagian penting dari kredibilitas buku.
Nama-nama besar yang tercantum dapat memengaruhi persepsi pembaca mengenai seberapa luas dukungan atau pandangan yang melatarbelakangi isi buku.
Ada tokoh yang justru meminta publik membaca secara utuh
Di tengah polemik tersebut, muncul pula pandangan yang meminta masyarakat tidak buru-buru menyimpulkan hanya berdasarkan judul buku.
Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya KH Mas Muhammad Maftuh, atau Gus Maftuh, meminta publik membaca buku secara utuh dan proporsional.
Menurutnya, istilah “Islam Ala Prabowo” tidak dimaksudkan sebagai ajaran atau mazhab baru.
“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru.”
Menurut Gus Maftuh, buku tersebut dimaksudkan untuk membahas bagaimana nilai-nilai Islam dipandang tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinan Prabowo.
Dengan demikian, polemik buku sebenarnya memiliki dua lapisan berbeda.
Lapisan pertama adalah perdebatan mengenai isi dan pilihan judul.
Lapisan kedua—yang lebih serius secara editorial—adalah persoalan pencantuman nama kontributor yang dibantah oleh orang yang namanya tercantum.
KH Asep sudah mengingatkan sejak awal
Persoalan mengenai judul buku ternyata juga pernah disoroti sebelum polemik terbaru berkembang.
KH Asep Saifuddin Chalim, yang mengakui dirinya memang terlibat dalam buku tersebut, mengatakan dirinya sudah mengingatkan panitia bahwa judul Islam Ala Prabowo cukup sensitif.
“Saya sudah mengingatkan sejak awal agar judulnya diubah karena sangat sensitif,” ujar Asep dalam wawancara dengan BANGSAONLINE pada 6 September 2026.
Artinya, sensitivitas buku tersebut bukan sepenuhnya persoalan yang baru muncul setelah viral di media sosial.
Sejak proses awal, sudah ada pihak yang melihat bahwa penyandingan kata “Islam” dengan nama seorang Presiden berpotensi menimbulkan banyak tafsir.
Pertanyaan yang sekarang menunggu jawaban
Polemik ini pada akhirnya mengarah pada pertanyaan yang sangat sederhana.
Dari mana sebenarnya materi tulisan yang menggunakan nama Gus Kautsar dan TGB berasal?
Apakah berupa naskah langsung dari yang bersangkutan? Apakah berasal dari wawancara? Pernyataan publik? Ceramah? Atau materi lain yang kemudian diolah oleh tim penyusun?
Pertanyaan itu penting karena menentukan apakah persoalannya hanya kesalahan atribusi editorial atau ada persoalan lain dalam proses penerbitan.
Karena itu, publik sebaiknya menunggu klarifikasi dari pihak penyusun dan penerbit sebelum menarik kesimpulan lebih jauh.
Untuk saat ini, yang telah terkonfirmasi adalah adanya bantahan terbuka dari TGB dan pihak keluarga Gus Kautsar terkait keterlibatan mereka sebagai penulis, sementara penjelasan rinci dari penerbit maupun tim penyusun masih dinantikan.
Kontroversi ini akhirnya membuat sebuah buku yang awalnya dimaksudkan membahas sisi keislaman seorang Presiden justru menghadapi pertanyaan mendasar tentang etika editorial, izin penggunaan nama, dan kredibilitas proses penyusunan buku.
Dan sebelum polemik berkembang menjadi tuduhan yang lebih jauh, satu hal yang paling dibutuhkan sekarang sebenarnya sederhana: klarifikasi terbuka dari penerbit dan tim penyusun.
Sumber: pojoksatu
Foto: Buku Islam Ala Prabowo yang mencantumkan nama Gus Kautsar dan TGB sebagai kontributor hingga memicu polemik. (Fajar Fadhlurrahman)