Lewat Gerakan Orang Tua Asuh, Pj Sekda Kepulauan Yapen Perkuat Upaya Cegah Stunting di Ambai
Distrik Kepulauan Ambai – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Kepulauan Yapen terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Yapen, Cyfrianus Yustus Mambay, pada Kamis (16/7/2026), mengunjungi Puskesmas Reradumpi, Distrik Kepulauan Ambai, untuk menyerahkan bantuan gizi sekaligus mengawali pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) di wilayah tersebut.
Kegiatan itu dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3A dan KB) Kabupaten Kepulauan Yapen, Rosita, beserta jajaran, Kepala Distrik Kepulauan Ambai Hugo Reba, Kepala Puskesmas Reradumpi bersama dokter, bidan, dan tenaga kesehatan, Dharma Wanita Persatuan Sekretariat Daerah, serta para ibu hamil, ibu menyusui, keluarga yang memiliki anak di bawah dua tahun (baduta), dan balita berisiko stunting.
Dalam kegiatan tersebut, Cyfrianus menyerahkan bantuan berupa Makanan Pendamping ASI (MPASI) kaya protein, susu sesuai kelompok usia, telur, kacang hijau, gula, serta bahan pangan bergizi lainnya kepada keluarga sasaran. Bantuan itu menjadi bagian dari intervensi pemenuhan gizi bagi anak-anak yang masuk dalam kategori berisiko stunting.
Dalam arahannya, Cyfrianus mengatakan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting merupakan tindak lanjut dari peluncuran program Genting yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen pada 29 Juni 2026. Melalui program tersebut, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), instansi vertikal, hingga badan usaha milik daerah (BUMD) mendapat tanggung jawab menjadi orang tua asuh bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak di bawah dua tahun yang berisiko mengalami stunting.
“Saya mendapat tanggung jawab mendampingi lokus di Distrik Kepulauan Ambai. Hari ini kami hadir bersama Dharma Wanita untuk melaksanakan amanah tersebut. Ini bukan hanya program pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kemanusiaan demi memastikan anak-anak kita memperoleh kesempatan tumbuh sehat,” ujar Cyfrianus.
Ia menegaskan bahwa kualitas pertumbuhan anak pada masa awal kehidupan memiliki hubungan erat dengan perkembangan kecerdasan dan kemampuan mereka pada masa depan. Menurut dia, pemenuhan gizi yang baik sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.
“Anak-anak yang kita dampingi hari ini adalah generasi yang akan menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat, termasuk era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Karena itu mereka harus dipersiapkan sejak dini melalui pemenuhan gizi yang baik agar mampu bersaing di masa depan,” katanya.
Cyfrianus menambahkan, keberhasilan menurunkan angka stunting tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan. Diperlukan keterlibatan seluruh perangkat daerah, dunia usaha, tenaga kesehatan, hingga masyarakat agar intervensi yang dilakukan berjalan berkelanjutan dan memberikan hasil nyata.
Selain penyaluran bantuan pangan bergizi, pelaksanaan Gerakan Genting juga disertai pengukuran ulang tinggi dan berat badan balita, edukasi kepada orang tua mengenai pola asuh dan penyusunan MPASI yang tepat, pemantauan sanitasi lingkungan, serta evaluasi pertumbuhan anak secara berkala oleh tenaga kesehatan.
Sementara itu, Kepala DP3A dan KB Kabupaten Kepulauan Yapen, Rosita, menjelaskan paket bantuan yang diberikan telah disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak berdasarkan kelompok usia.
Menurut Rosita, bantuan tersebut terdiri atas susu sesuai usia, dua rak telur, kacang hijau, dan gula yang dapat diolah sendiri oleh keluarga menjadi makanan bergizi.
“Anak baduta dianjurkan mengonsumsi dua butir telur setiap hari. Bahan pangan yang kami serahkan diharapkan benar-benar dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sehingga pertumbuhan mereka dapat berlangsung secara optimal,” ujar Rosita.
Ia menjelaskan, program Genting melengkapi intervensi gizi yang telah dilaksanakan puskesmas melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Balita berisiko stunting memperoleh pemberian makanan tambahan selama 56 hari, sedangkan ibu hamil mendapat pendampingan gizi selama 120 hari.
Rosita menambahkan, pendampingan kepada keluarga tidak berhenti pada penyaluran bantuan. Tenaga kesehatan akan terus memantau perkembangan tinggi badan, berat badan, serta kondisi kesehatan anak agar risiko stunting dapat dicegah sejak dini.
“Harapan kami, anak-anak tetap tumbuh sehat, berat badannya meningkat sesuai usia, tidak mudah sakit, dan berkembang secara optimal. Peran orang tua menjadi kunci keberhasilan upaya pencegahan stunting,” katanya.
Melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen menargetkan percepatan penurunan angka stunting melalui kolaborasi lintas sektor dengan memastikan setiap ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berisiko memperoleh pendampingan, pelayanan kesehatan, serta asupan gizi yang memadai sejak awal kehidupan.
The post Lewat Gerakan Orang Tua Asuh, Pj Sekda Kepulauan Yapen Perkuat Upaya Cegah Stunting di Ambai first appeared on pembaruanpapua.com.




